​Erlita Nova Atika Dewi: Membawa Narasi Pemberdayaan Perempuan dari Kandang Ayam ke Panggung Miss Grand Indonesia

0
2
Erlita Nova Atika Dewi, salah satu perwakilan DIY dalam Ajang Miss Grand Indonesia 2026. (Istimewa)

Dunia kontes kecantikan sering kali identik dengan gaun mewah, tata rias sempurna, dan penampilan memukau di atas panggung. Namun bagi Erlita Nova Atika Dewi, ajang Miss Grand Indonesia 2026 bukan sekadar kompetisi kecantikan. Perempuan yang akrab disapa Lita Nova itu melihatnya sebagai ruang untuk menyuarakan gagasan tentang kepemimpinan perempuan dan pemberdayaan diri.

Di balik persiapannya menuju panggung nasional pada akhir Juli mendatang, Lita membawa latar belakang yang tak biasa. Lahir pada 20 November 1996, ia merupakan Sarjana Pertanian sekaligus pengusaha yang menekuni sektor pasokan daging ayam.

Ketertarikannya pada dunia pageant sebenarnya telah tumbuh sejak kecil. Ia mengaku kerap mengikuti ajang Putri Indonesia melalui layar televisi. Namun sebelum mewujudkan impian tersebut, hidup membawanya lebih dulu menapaki dunia usaha.

Lulusan Agroteknologi UPN Veteran Jawa Timur angkatan 2015 itu mulai merintis bisnis sejak masih kuliah. Melalui usahanya yang bernama Cibo, Lita mengelola bisnis pemotongan dan perdagangan ayam dengan sistem maklun yang bermitra dengan peternak di Pati, Jawa Tengah.

Seiring waktu, usahanya berkembang. Untuk pasar ritel, produk daging ayam yang dikelolanya memasok kebutuhan hotel, restoran, kafe, hingga supermarket di Jawa Timur. Sementara distribusi dalam skala besar telah menjangkau Makassar hingga Papua.

Menyuarakan Kepemimpinan Perempuan

Menjadi perempuan yang memimpin usaha di sektor yang didominasi laki-laki bukan tanpa tantangan. Menurut Lita, menjaga kedisiplinan, mempertahankan visi bisnis, dan membagi waktu dengan kehidupan keluarga menjadi ujian yang harus dihadapi setiap hari.

Pengalaman itulah yang kemudian melahirkan gerakan advokasi bertajuk #LeadaLeader.

“#LeadaLeader adalah gerakan yang bergerak di bidang women empowerment. Sebagai seorang pengusaha, saya ingin membangun dan mengajak semua orang, khususnya perempuan, untuk berani memimpin, mengenali potensi diri, dan mengambil peran dalam menciptakan perubahan yang bermakna,” ujar Lita.

Langkah Lita menuju Miss Grand Indonesia juga terbilang unik. Regional Director Miss Grand DIY, Aristha Adinegara, mengungkapkan bahwa pihaknya tidak sempat menggelar audisi terbuka setelah lisensi regional resmi diperoleh pada Mei lalu. Dengan waktu persiapan yang terbatas, tim memilih melakukan seleksi langsung.

Lita akhirnya ditunjuk untuk mewakili DIY karena dinilai memiliki kombinasi kemampuan, karakter, serta latar belakang yang kuat.

Belajar dari Nol Menuju Panggung Nasional

Meski baru pertama kali mengikuti ajang beauty pageant, Lita menjalani persiapan secara serius. Dalam waktu sekitar dua hingga tiga bulan, ia fokus meningkatkan kemampuan catwalk dan public speaking. Saat ini, persiapannya disebut telah mencapai sekitar 85 persen.

Adinegara bersama tim juga menyiapkan strategi khusus agar wakil DIY tersebut mampu bersaing di tingkat nasional. Salah satu peluang yang dibidik adalah jalur fast track melalui sub-kontes talenta.

“Di Miss Grand itu ada sub-kontes namanya Grand Voice. Kebetulan Mbak Lita memiliki suara yang bagus dalam bernyanyi. Kami berharap dia bisa mendapatkan fast track dari sana untuk mengamankan posisi di jajaran Top 15,” kata Adi.

Selain mengandalkan kemampuan pribadi, sentuhan budaya lokal juga akan menjadi bagian penting dari penampilan Lita. Untuk masa karantina, ia akan mengenakan busana hasil kolaborasi dengan perajin UMKM Batik Tulis asal Jogja. Sementara untuk penampilan utama, tim telah menyiapkan evening gown dan traditional costume yang merepresentasikan identitas daerah.

Membawa Nama Jogja ke Panggung Nasional

Persiapan menuju kompetisi nasional turut dimanfaatkan untuk memperkenalkan potensi wisata dan budaya Jogja. Beberapa waktu lalu, Lita bersama tim melakukan pengambilan video profil di sejumlah lokasi ikonik seperti Taman Sari, Plengkung Gading, dan Museum Ullen Sentalu.

Bagi Adinegara, target yang dipasang tahun ini bukan sekadar tampil kompetitif. Ia berharap wakil DIY mampu meraih prestasi tertinggi dan membawa mahkota nasional ke Jogja.

Menurutnya, meningkatnya popularitas Miss Grand Indonesia dapat menjadi momentum untuk memperluas perhatian publik terhadap potensi daerah.

“Harapannya tentu bisa menang di ajang nasional ini. Jika mahkota itu bisa dibawa ke Yogyakarta, perhatian publik akan semakin tertuju ke sini. Dampaknya, kami bisa menghadirkan kegiatan yang lebih besar di Jogja pada tahun-tahun berikutnya,” ujar Adi. (*)