Akurasi pengukuran menjadi fondasi penting dalam perdagangan global. Tanpa sistem pengukuran yang akurat dan diakui secara internasional, kualitas produk, perlindungan konsumen, hingga kelancaran ekspor-impor berpotensi terganggu.
“Alat ukur harus dikalibrasi secara berjenjang sampai ke standar nasional di BSN, kemudian ditelusurkan lagi ke standar internasional melalui uji banding antarnegara. Dengan begitu hasil pengukuran di Indonesia diakui secara global,” kata Deputi Bidang Standar Nasional Satuan Ukuran (SNSU) Badan Standardisasi Nasional (BSN) Y. Kristianto Widiwardono dalam Asia Pacific Metrology Programme Mid-Year Meetings (APMP MYM) 2026 di Yogyakarta, Kamis (16/7/2026).
Menurut Kristianto, seluruh alat ukur, mulai dari timbangan perdagangan, alat kesehatan, hingga instrumen industri, harus memiliki ketertelusuran pengukuran yang jelas agar hasilnya dapat dipercaya.
Ia menjelaskan, kesalahan pengukuran dapat berdampak langsung pada keselamatan masyarakat maupun daya saing industri. Termometer yang tidak akurat dapat memengaruhi diagnosis pasien, sedangkan alat ukur di sektor industri berpotensi menurunkan mutu produk dan menghambat ekspor.
“Kalau alat ukur di industri tidak akurat, kualitas produknya bisa menurun. Itu sebabnya kalibrasi menjadi sangat penting,” ujarnya.
Kristianto menjelaskan sistem ketertelusuran dilakukan secara berjenjang. Alat ukur dikalibrasi menggunakan alat yang lebih presisi hingga akhirnya mengacu pada standar nasional milik BSN. Standar tersebut kemudian dibandingkan dengan standar internasional melalui uji banding antarnegara sehingga hasil pengukuran Indonesia diakui secara global.
Menurutnya, sistem tersebut berlaku untuk seluruh jenis alat ukur, baik timbangan, termometer, instrumen laboratorium, maupun berbagai peralatan industri.
Ia menambahkan, hasil kalibrasi menunjukkan tingkat ketelitian suatu alat. Untuk alat ukur yang digunakan pada sektor yang diatur pemerintah, seperti timbangan perdagangan, alat yang berada di luar batas toleransi tidak diperbolehkan digunakan. Sementara pada sektor nonregulasi, keputusan penggunaan berada di tangan pemilik alat, meski umumnya alat yang tidak lagi akurat akan diganti.
Dalam sistem metrologi nasional, BSN menjadi puncak rantai ketertelusuran pengukuran melalui laboratorium metrologi nasional di Serpong dan laboratorium radiasi di Mampang. Selanjutnya, laboratorium kalibrasi di berbagai daerah melakukan penelusuran ke BSN sehingga layanan kalibrasi dapat menjangkau industri dan masyarakat tanpa seluruh alat harus dikirim ke laboratorium nasional.
Pertemuan APMP MYM 2026 yang berlangsung pada 13–17 Juli 2026 diikuti delegasi dari 20 negara. Salah satu agenda utamanya adalah simposium internasional bertema Circular Economy for Future Sustainability yang membahas peran metrologi dalam mendukung ekonomi sirkular melalui sistem pengukuran yang akurat, tertelusur, dan diakui secara internasional.
Ketua APMP Gregory Goh mengatakan kolaborasi antarnegara semakin penting di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan gangguan rantai pasok global.
“Komunitas APMP memiliki semangat kolaborasi yang sangat kuat. Di tengah berbagai gangguan geopolitik dan rantai pasok global, kita harus bekerja lebih erat. Sistem pengukuran akan selalu menjadi fondasi penting bagi perekonomian,” ujarnya.
Menurut Gregory, metrologi juga berperan penting dalam mendukung ekonomi sirkular, salah satunya melalui pengukuran kapasitas baterai kendaraan listrik bekas agar dapat dimanfaatkan kembali secara aman dan sesuai standar internasional.
Saat ini BSN memiliki 165 Calibration and Measurement Capabilities (CMC) yang telah diakui secara internasional, menempatkan Indonesia pada peringkat ketiga di Asia Tenggara. Sepanjang 2025, BSN juga menerbitkan 2.549 sertifikat kalibrasi untuk mendukung berbagai sektor strategis nasional.
Selain menjadi tuan rumah APMP MYM 2026, Indonesia juga memegang sejumlah posisi strategis di APMP, antara lain Ketua Developing Economies’ Committee (DEC), APMP-APAC Proficiency Testing Working Group, serta tiga posisi champion pada komite teknis bidang panjang, fotometri dan radiometri, serta listrik dan magnetisme. (*)













