
Ratusan siswa baru di salah satu sekolah di Kota Jogja diduga menjadi korban penipuan berkedok tes TOEFL saat pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Jumat (17/7/2026). Para siswa diminta membayar Rp100.000 per orang untuk mengikuti tes yang diklaim sebagai syarat penting bagi pendidikan dan karier.
Kasus ini mencuat setelah sejumlah korban membagikan pengalamannya melalui akun Instagram @merapi_uncover, Sabtu (18/7/2026). Berdasarkan penelusuran para korban, lembaga berinisial “Yogya*” diduga menjalankan modus serupa di sejumlah daerah, seperti Klaten, Solo, Wonogiri, Tegal, hingga Kediri.
Menurut keterangan siswa, dua orang yang mengaku sebagai perwakilan lembaga masuk ke ruang berisi sekitar 108 siswa baru. Mereka menawarkan tes TOEFL dengan berbagai klaim, termasuk mencatut nama Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIY serta Polda DIY agar kegiatan terlihat resmi. Siswa kemudian diberi waktu sekitar 15 menit untuk membayar secara tunai, transfer, atau QRIS.
Kecurigaan muncul setelah kegiatan berakhir. Kuitansi pembayaran diduga memuat alamat dan nomor kontak yang tidak valid, sementara layanan yang dijanjikan diketahui bukan sertifikasi TOEFL resmi, melainkan English Proficiency Test (EPT) secara daring.
Pihak sekolah telah menyatakan akan menalangi pengembalian uang para siswa. Saat ini, kuitansi pembayaran masih dikumpulkan sebagai bahan penelusuran.
Kepala Bidang Perencanaan dan Data Disdikpora DIY, Suci Rohmadi, menegaskan pihaknya tidak pernah memberikan izin maupun rekomendasi kepada lembaga tersebut.
“Pencatutan nama Dikpora dan Polda adalah tindakan ilegal dan penyesatan informasi. Kami mengimbau pihak sekolah untuk tidak mudah percaya pada oknum yang membawa nama dinas tanpa surat tugas resmi,” kata Suci, Sabtu (18/7/2026).
Meski belum menerima laporan resmi, Disdikpora DIY akan menginstruksikan Balai Dikmen kabupaten/kota melakukan investigasi serta mengevaluasi sistem penerimaan tamu di sekolah selama MPLS. (*)













