Langgeng Art Space Gelar Tribute untuk S. Teddy D dan Pameran Non-Hierarkis

0
159
Penikmat seni memenuhi ruang pameran Salon et Cetera di Langgeng Art Space, Suryodiningratan. (zukhronnee muhammad)

Langgeng Art Space kembali menghadirkan geliat seni rupa kontemporer melalui pameran yang digelar sejak 20 Juni hingga 25 Juli 2025 di Jalan Suryodiningratan No. 37, Yogyakarta.

Kali ini, tiga program utama dipresentasikan, yakni Salon et Cetera, Broken White Project Focus (BWP Focus), dan pameran tematik bertajuk Kiasmos, yang secara keseluruhan melibatkan 143 seniman Indonesia dan 15 seniman internasional dari Thailand, Jepang, dan Korea.

Program Salon et Cetera menjadi sorotan utama dengan menghadirkan sekitar 200 karya dalam format “salon-style” yang menolak sistem kurasi hierarkis.

Menurut Gintani Swastika dari Ace House Collective, program ini memberi ruang demokratis bagi seniman lintas latar belakang untuk berjejaring secara visual, dengan menempatkan karya dalam posisi sejajar dan saling berdialog.

“Ini bagian dari upaya kami mendemokratisasi seni—formatnya komunal, cair, dan performatif,” ujar Gintani.

Sementara itu, Broken White Project Focus tahun ini menampilkan karya retrospektif seniman legendaris S. Teddy Darmawan, yang dikenal lewat pendekatan visual yang bebas medium dan penuh intensitas emosi.

Pameran ini menampilkan 12 karya dari periode 1999–2012, termasuk dua karya yang belum pernah dipamerkan semasa hidupnya.

“Ini momen penting karena terakhir kali Teddy berpameran tunggal di sini adalah 14 tahun lalu. Kami ingin generasi muda juga mengenal karyanya,” tambah Tommy Firdaus dari Langgeng Art Foundation.

S. Teddy dikenal sebagai perupa penjelajah batas yang menolak disiplin tunggal dan kerap menghadirkan figur-figur yang mengguncang secara visual.

Salah satu karyanya yang monumental, Love Tank (The Temple), merupakan instalasi berskala besar yang sempat dipamerkan di Singapore Art Museum pada 2010 sebagai proyek komisi National Gallery Singapore.

Di lantai atas, kurator Agung Hujatnika mengurasi Kiasmos, yang menampilkan 21 karya dari 12 seniman asal Bandung, Jakarta, Bali, dan Yogyakarta.

Kiasmos ini mengeksplorasi pendekatan seni abstrak melalui lensa lokal yang lebih sentimental dan kontekstual, berbeda dari pendekatan formalis khas Barat.

“Kami ingin menghadirkan ruang persilangan antara tubuh, dunia, dan pengalaman visual,” ungkap Agung.

Dengan format lintas generasi dan lintas pendekatan, Langgeng Art Space tahun ini menegaskan perannya sebagai ruang alternatif yang bukan hanya memamerkan karya seni, tetapi juga menawarkan gagasan tentang bagaimana seni bisa dialami—tidak hanya dilihat, tetapi dirasakan secara utuh oleh tubuh, ingatan, dan sejarah.(*)