Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) memastikan Program Mahasiswa Berdampak berlanjut pada 2026 dengan dukungan anggaran sebesar Rp14 miliar. Program yang mendorong mahasiswa menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat itu telah mendanai 263 proposal dari 199 perguruan tinggi di Indonesia sepanjang 2025.
Komitmen tersebut disampaikan Direktur Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemendiktisaintek, I Ketut Adnyana, dalam Seminar Hasil Program Mahasiswa Berdampak di Amphitarium Kampus IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta, Sabtu (6/6/2026).
Ketut mengatakan Program Mahasiswa Berdampak lahir pada 2025 atas arahan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Meski disusun dalam waktu singkat dan di tengah ketidakpastian anggaran, program tersebut berhasil dijalankan dan akan terus dilanjutkan.
“Mahasiswa adalah energi, idealisme, tenaga, dan sumber ide-ide brilian. Karena itu kami berupaya memberikan ruang agar mereka dapat berkontribusi langsung kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan semangat Diktisaintek Berdampak diwujudkan melalui tiga aspek utama, yakni dampak akademik, sosial, dan ekonomi. Kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat diharapkan tidak hanya menghasilkan capaian akademik, tetapi juga mampu menciptakan perubahan sosial yang berkelanjutan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Fauzan Adziman, menyebut mahasiswa merupakan aktor utama dalam menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Menurutnya, perguruan tinggi harus memastikan inovasi dan gagasan yang dihasilkan mahasiswa dapat dirasakan manfaatnya secara luas.
“Mahasiswa adalah energi kita. Mereka harus dilatih kepekaan untuk mendengarkan persoalan masyarakat, mengidentifikasi masalah, lalu menghadirkan solusi yang mampu mentransformasi kehidupan sosial berbasis empati,” katanya.
Fauzan mengungkapkan, pada 2025 terdapat 957 proposal yang diajukan dalam Program Mahasiswa Berdampak. Sebanyak 263 proposal dinyatakan lolos pendanaan dengan total anggaran mencapai Rp30,1 miliar. Program tersebut melibatkan 199 perguruan tinggi, dengan sekitar 80 persen peserta berasal dari perguruan tinggi swasta.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik UAD, Sunardi, menyampaikan seminar hasil program diikuti 60 tim mahasiswa dan dosen dari berbagai daerah, mulai dari Aceh hingga Fakfak, Papua. Dua tim di antaranya berasal dari UAD.
Menurut Sunardi, capaian riset dan pengabdian masyarakat di UAD terus meningkat. Pada tahun lalu, 530 dari 550 dosen yang memenuhi syarat berhasil mengajukan proposal penelitian dan pengabdian masyarakat.
Capaian tersebut turut mengantarkan UAD meraih predikat perguruan tinggi swasta terbaik nasional dalam pendanaan penelitian dan pengabdian selama tiga tahun berturut-turut. (*)













