Mandiri Jogja Marathon (MJM) 2026 kembali mengusung pendekatan yang memadukan olahraga dan budaya. Tahun ini, penyelenggara memilih Panggung Krapyak sebagai desain medali finisher, sebuah bangunan bersejarah yang menjadi bagian dari Sumbu Filosofis Yogyakarta dan telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Dunia.
Pemilihan Panggung Krapyak tidak lepas dari tema besar yang diangkat pada gelaran tahun ini, yakni menghadirkan pengalaman berlari yang sekaligus memperkenalkan warisan budaya Yogyakarta kepada peserta dari berbagai daerah dan negara.
Race Director MJM 2026 dari iSport, Pandu Bagus Buntaran, mengatakan setiap bagian dari penyelenggaraan dirancang untuk memperkuat keterhubungan antara olahraga, budaya, dan pariwisata. Hal itu tercermin mulai dari desain medali hingga rute perlombaan yang melintasi sejumlah kawasan bersejarah di sekitar Prambanan.
“Setiap kilometer di MJM 2026 adalah perjalanan menyusuri Sumbu Filosofis, garis imajiner yang membentang dari Panggung Krapyak, Keraton Yogyakarta, hingga Tugu Pal Putih. Pelari tidak hanya menempuh jarak, tetapi juga menapaki narasi peradaban Yogyakarta,” ujar Pandu dalam konferensi pers di Yogyakarta, Kamis (18/6/2026).
Menurut dia, lintasan yang telah tersertifikasi oleh Association of International Marathons and Distance Races (AIMS) itu membawa peserta melintasi berbagai lanskap khas Yogyakarta, mulai dari kawasan Candi Plaosan, Monumen Taruna, hingga perkampungan dan area persawahan di sekitar Prambanan.
Mandiri Jogja Marathon 2026 akan berlangsung pada Minggu (21/6/2026) di kawasan Candi Prambanan. Sebanyak 10.200 pelari dari 17 negara dijadwalkan ambil bagian dalam empat kategori lomba, yakni marathon (42,195 kilometer), half marathon (21,097 kilometer), 10K, dan 5K Fun Run. Jumlah tersebut menjadi yang terbesar sejak ajang ini pertama kali digelar pada 2017.
Kepala Dinas Pariwisata DIY, Imam Pratanadi, menilai MJM telah berkembang menjadi salah satu agenda sport tourism penting bagi Yogyakarta. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.
“MJM membuktikan olahraga, budaya, dan pariwisata dapat bersinergi. Dampaknya tidak hanya ekonomi, tetapi juga sosial melalui berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat,” kata Imam.
Ia menambahkan, manfaat penyelenggaraan MJM dirasakan oleh berbagai sektor, mulai dari perhotelan, transportasi, kuliner, hingga pelaku usaha kecil yang terlibat dalam rangkaian acara.
Corporate Secretary Bank Mandiri, Adhika Vista, mengatakan MJM dirancang sebagai ajang yang memberikan manfaat lebih luas dibanding sekadar kompetisi lari.
Kehadiran ribuan peserta dari berbagai daerah dan negara diharapkan dapat memperkuat promosi Yogyakarta sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.
“Kami berharap ajang ini tidak hanya menjadi ruang kompetisi bagi para pelari, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat dan kawasan sekitar penyelenggaraan,” ujarnya.
Selain lomba, penyelenggara menyiapkan sejumlah program pendukung yang melibatkan masyarakat sekitar. Di antaranya pengelolaan sampah berbasis zero waste to landfill, kegiatan sosial di desa-desa sekitar Prambanan, serta pelibatan puluhan pelaku UMKM lokal di area race village.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, MJM 2026 tidak hanya menjadi ajang adu ketahanan fisik bagi para pelari, tetapi juga ruang untuk memperkenalkan wajah Yogyakarta yang kaya akan sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakatnya.
Bagi ribuan peserta yang akan memadati kawasan Prambanan akhir pekan ini, setiap langkah yang ditempuh tidak hanya menuju garis finis, tetapi juga menyusuri jejak panjang peradaban yang menjadi identitas Yogyakarta. (*)












