
Ribuan warga bersama Abdi Dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat mengikuti tradisi Mubeng Beteng pada Selasa (16/6) malam hingga Rabu (17/6) dini hari untuk menyambut Tahun Baru Jawa 1 Sura Warsa Enggal Be 1960.
Tradisi tahunan ini diawali dari Bangsal Ponconiti, Kompleks Keraton Yogyakarta. Tepat pukul 00.00 WIB, iring-iringan peserta mulai berjalan mengelilingi benteng Keraton dalam suasana hening.
Mereka menjalani laku tapa bisu, yakni berjalan tanpa berbicara sebagai bentuk refleksi diri dan doa memasuki tahun baru Jawa.
Ketua Paguyuban Abdi Dalem Keraton Yogyakarta, KRT Kusumanegara, mengatakan kegiatan tersebut merupakan Hajad Kawula Dalem atau agenda adat yang diselenggarakan masyarakat bersama Abdi Dalem.
Meski bukan agenda resmi Keraton, pelaksanaannya mendapat izin dari Sri Sultan Hamengku Buwono X.
“Malam ini bertepatan dengan Malam Satu Suro tahun Be 1960, atas berkenan Ngarsa Dalem Sri Sultan melalui Kawedanan Hageng Panitropuro, kami diizinkan menggunakan Kagungan Dalem Bangsal Ponconiti beserta seluruh kelengkapannya untuk menyelenggarakan kegiatan adat Hajad Kawula Dalem ini,” ujarnya.
Perwakilan Paguyuban Abdi Dalem, KRT Wijayapamungkas, memperkirakan jumlah peserta mencapai belasan ribu orang. Angka itu meningkat dibanding tahun lalu yang mencapai sekitar 10 ribu peserta.
Rombongan menempuh jarak sekitar 5 kilometer mengelilingi benteng Keraton sebelum kembali ke titik awal.
Menurutnya, Mubeng Beteng bukan sekadar berjalan kaki, tetapi juga menjadi momentum untuk melakukan introspeksi diri.
“Meneng di sini bukan berarti pasif, melainkan diam sambil berdoa dan mengevaluasi apa yang sudah dilakukan di masa lalu. Jika ada yang jelek, dikembalikan kepada yang benar,” katanya.
Tahun ini terdapat hal baru dalam rangkaian perayaan, yakni Pergelaran Wayang Kulit Gedhog yang digelar sebelum prosesi dimulai.
Pertunjukan yang diselenggarakan Kawedanan Kridhamardawa itu menjadi penanda datangnya Tahun Be 1960, yang merupakan awal siklus delapan tahunan atau windu dalam kalender Jawa. (*)
















