Peneliti Ungkap Bahaya Racun Jamur pada Pangan bagi Ginjal Penderita Diabetes

0
2
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra, dr. Edwin Hadinata, Sp.PD. Ia meraih Juara 1 pada The 8th Jakarta Nephrology Meeting (JNM) 2026. (Istimewa)

Prestasi membanggakan diraih dosen Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra, dr. Edwin Hadinata, Sp.PD. Ia meraih Juara 1 pada The 8th Jakarta Nephrology Meeting (JNM) 2026 lewat riset yang mengungkap bahaya dua mikotoksin pangan, Ochratoxin A (OTA) dan Citrinin, terhadap penderita diabetes.

Riset ini merupakan hasil kolaborasi ilmiah yang dibimbing oleh para pakar di bidang nefrologi, penyakit dalam, dan biomedis, yaitu dr. Iri Kuswadi, Sp.PD-KGH, FINASIM, Dr. dr. Metalia Puspitasari, M.Sc., Sp.PD-KGH, Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD, Subsp.End.(K), Ph.D., serta Fahrul Nurkolis, S.Si., M.Biomed.

Penelitian itu menemukan paparan kedua racun yang dihasilkan jamur tersebut dapat mempercepat kerusakan ginjal pada penyandang diabetes dengan memicu ferroptosis, yaitu kematian sel akibat stres oksidatif dan kerusakan lemak pada sel.

Yang perlu diketahui, OTA dan Citrinin dapat ditemukan pada berbagai bahan pangan yang akrab dikonsumsi masyarakat, seperti beras, jagung, gandum, kopi, serealia, rempah-rempah, kakao, kacang-kacangan, hingga buah kering, terutama jika penyimpanannya lembap dan memicu pertumbuhan jamur.

Temuan ini memberi sinyal bahwa faktor lingkungan, khususnya keamanan pangan, juga berperan dalam mempercepat penyakit ginjal akibat diabetes.

Karena itu, tim peneliti mendorong adanya studi epidemiologi nasional untuk mengukur tingkat paparan mikotoksin di Indonesia sebagai dasar memperkuat sistem keamanan pangan dan pencegahan penyakit ginjal kronis.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra, Prof. Dr. dr. Hendy Hendarto, Sp.OG, Subsp. FER, dalam keterangan tertulisnya pada Senin (27/7/2026) menyebut prestasi tersebut menjadi bukti komitmen kampus dalam menghasilkan riset yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berdampak nyata bagi kesehatan masyarakat.

Temuan ini membuka peluang lahirnya strategi pencegahan dan terapi baru bagi penyakit ginjal diabetes, sekaligus mengingatkan pentingnya penyimpanan pangan yang baik untuk meminimalkan risiko kontaminasi jamur. (*)