Dulu Dipindah karena Overkapasitas, Kini Prabowo Ingin Bandara Adisutjipto Dibuka Lagi untuk Penerbangan Komersial

0
2
Bandara Adisutjipto saat masih digunakan untuk penerbangan komersial pada enam tahun lalu. (Stefanus Silvian)

Pemerintah pusat berencana menghidupkan kembali penerbangan komersial di Bandara Adisutjipto, enam tahun setelah bandara tersebut ditinggalkan maskapai jet dan penerbangan internasional karena persoalan overkapasitas dan keterbatasan infrastruktur.

Reaktivasi itu merupakan instruksi Presiden Prabowo Subianto dalam program optimalisasi sejumlah bandara, termasuk Bandara Husein Sastranegara. Kebijakan tersebut langsung disambut positif Pemerintah Kabupaten Sleman.

Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menilai aktifnya kembali penerbangan komersial di Adisutjipto dapat menggerakkan ekonomi masyarakat dan membuka peluang bagi pelaku UMKM.

“Kehadiran bandara yang lebih aktif akan memberikan dampak domino yang positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah,” kata Harda, beberapa waktu lalu.

Rencana ini menjadi sorotan karena pada Maret 2020 seluruh penerbangan komersial bermesin jet dipindahkan ke Yogyakarta International Airport (YIA). Saat itu, Adisutjipto dinilai sudah tidak mampu menampung lonjakan penumpang.

Bandara yang dirancang melayani sekitar 1,2 hingga 1,7 juta penumpang per tahun itu sempat menanggung beban lebih dari 8 juta penumpang.

Terminal penuh sesak, sementara landasan pacu sepanjang 2.200 meter tidak memungkinkan operasional pesawat berbadan lebar untuk rute jarak jauh.

Selain itu, lokasi bandara yang berada di tengah kawasan perkotaan padat dan berbagi operasional dengan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara membuat ruang pengembangan dan pengaturan penerbangan menjadi terbatas.

Meski demikian, pemerintah kini melihat peluang untuk mengoptimalkan kembali fungsi komersial bandara tersebut.

Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan menyatakan koordinasi lintas kementerian telah dilakukan untuk menyiapkan regulasi pemanfaatan bersama pangkalan udara militer dan sipil. (*)