
Sekolah Tumbuh merayakan dua dekade kiprahnya di dunia pendidikan dengan menggelar pameran dan pagelaran bertajuk “2 DekaDe Sekolah Tumbuh: Reunion – Melihat Pertumbuhan”, Jumat, 17 Oktober 2025, di Jogja National Museum (JNM).
Acara berlangsung pukul 15.30 hingga 19.00 WIB, menampilkan berbagai pertunjukan seni dan kegiatan interaktif yang melibatkan siswa, alumni, hingga orang tua murid.
Rangkaian acara dimulai dengan penampilan paduan suara SD Tumbuh, disusul pentas monolog dari siswa SMP Tumbuh. Suasana semakin hangat saat lagu tema “Suwe Ora Jamu” dibawakan bersama oleh murid, alumni, para edukator, staf, dan orang tua.
Selain itu, turut ditampilkan pertunjukan karawitan alumni, performa klub biola, serta dua lokakarya, yaitu workshop mewarnai gerabah dan tea workshop.
Menurut KPH Wironegoro, Ketua Yayasan Edukasi Anak Nusantara (YEAN), acara ini menjadi refleksi perjalanan panjang lembaga pendidikan tersebut selama 20 tahun berdiri.
“Yang kami tampilkan hari ini adalah perjalanan Sekolah Tumbuh selama dua dekade. Kami memulai dari satu SD di Jetis, dan kini sudah berkembang menjadi empat SD, satu TK, satu SMP, satu SMA, dan satu lembaga setingkat D1,” ujarnya.
Pameran di JNM ini menampilkan dokumentasi perjalanan Sekolah Tumbuh sejak berdiri pada 2005. Salah satu yang menarik perhatian pengunjung adalah prasasti berisi 40 nama murid angkatan pertama.
Tim kurator mengunjungi seluruh kampus, membongkar gudang, dan mengumpulkan berbagai karya siswa, baik berupa tugas pribadi maupun hasil kegiatan sekolah di dalam dan luar negeri.
“Kami juga melibatkan alumni. Dari 40 nama di prasasti itu, saya sudah bertemu sekitar enam sampai tujuh orang. Sekolah ini seperti rumah kedua, dan hubungan kami tetap terjalin, bukan hanya dengan murid tapi juga dengan orang tuanya,” kata Wironegoro.
Meski bertema reuni, Sekolah Tumbuh juga ingin menegaskan kembali peran penting pendidikan inklusi dalam memperkuat keberagaman di Indonesia.
“Ini bentuk pertanggungjawaban kami sebagai lembaga pendidikan yang sudah 20 tahun berkontribusi, tidak hanya di DIY tetapi juga di Jakarta,” ujarnya.
Sekolah Tumbuh kini memiliki sekitar 830 siswa yang tersebar di empat kampus di Yogyakarta. Dalam perayaan ini, yayasan juga memutuskan untuk menyalurkan bantuan dari pemerintah daerah kepada sekolah-sekolah lain yang lebih membutuhkan.
“Keputusan ini bukan politis, tapi kemanusiaan. Kami merasa masih banyak sekolah yang lebih membutuhkan dukungan,” jelasnya.
Wironegoro menegaskan bahwa nilai keberagaman dan karakter menjadi dasar utama pendidikan di Sekolah Tumbuh.
“Kami ingin anak-anak memahami bahwa keberagaman adalah kekuatan. Mereka diajarkan untuk beradaptasi dengan perubahan tanpa kehilangan akar budaya,” tuturnya.
Meskipun banyak lulusan Sekolah Tumbuh telah menempuh pendidikan dan berprestasi hingga ke luar negeri, mereka tetap berpegang pada nilai-nilai lokal.
“Sesuai tagline kami, Jogja Education, anak-anak kami menjadi pribadi global tapi tetap berpijak pada budaya,” pungkas Wironegoro.
Arsip dan Reuni Jadi Napak Tilas 20 Tahun Sekolah Tumbuh
Perayaan dua dekade Sekolah Tumbuh tak sekadar menandai perjalanan waktu, tetapi juga menjadi ajang refleksi dan reuni lewat karya seni.
Dalam pameran bertajuk “Reuni dan Penemuan Arsip”, kurator Angki Purbandono menghadirkan pendekatan kuratorial berbasis riset yang menggali kembali jejak sejarah dan nilai-nilai khas sekolah alternatif di Yogyakarta itu.
“Reuni ini sebenarnya hasil kuratorial yang berbasis riset. Selama satu bulan saya melakukan penelitian, berbincang dengan para guru, pendiri, murid, hingga pekerja sekolah untuk menggali hal-hal yang belum pernah diangkat,” ujar Angki.
Dari proses tersebut, ia menemukan kembali keistimewaan Sekolah Tumbuh yang berakar pada empat pilar utama: entrepreneurship, museum school, global citizenship, dan ACE (Active, Creative, Ethical). Menurut Angki, pameran ini menjadi cara untuk menampilkan ekspresi lain dari sekolah yang telah berusia 20 tahun itu.
“Tumbuh ternyata punya ekspresi lain terhadap ‘harta karunnya’, yaitu arsipnya,” katanya.
Melalui arsip, pameran ini tidak hanya menghadirkan kenangan, tetapi juga membuka ruang baru bagi publik untuk memahami perjalanan sekolah. Pameran dibuka untuk umum agar bisa menjadi sumber inspirasi dan pembelajaran bagi masyarakat luas.
“Banyak orang tua dan bahkan warga Tumbuh sendiri baru tahu sejarah sekolah mereka. Misalnya, ada Tumbuh 1, 2, dan 3, tapi tidak semua tahu kapan masing-masing berdiri. Jadi ini juga jadi proses belajar bersama,” tutur Angki.
Ia menambahkan, pameran ini menjadi momen dari ketidaktahuan menuju pengetahuan. Arsip sekolah, katanya, bukan hanya penanda prestasi, melainkan juga penegas identitas dan reputasi Sekolah Tumbuh sebagai lembaga pendidikan yang hangat, terbuka, dan berorientasi pada keberagaman. (*)













