
Ada stigma bahwa Gen Z dan Gen Alpha lebih akrab dengan lightstick K-Pop atau layar game online ketimbang tokoh pewayangan. Namun, anggapan itu patah di halaman SMKN 4 Yogyakarta, pada Senin (2/2/2026) malam.
Ribuan siswa—yang mayoritas perempuan—duduk lesehan dengan antusias menatap kelir (layar wayang). Bagi Tiara dan Kania, dua siswi yang juga panitia acara, malam itu bukan sekadar menggugurkan kewajiban sekolah.
“Kalau nonton langsung itu kita bisa dapat vibes-nya, beda sama live streaming yang kurang mantap. Kita jadi tahu alur ceritanya dan karakter tokohnya secara utuh,” ujar Tiara dengan mata berbinar.
Kania menimpali, di tengah gempuran game online dan budaya asing, ia merasa generasi muda wajib ambil bagian.
“Wayang ini positif banget. Padahal kan sekarang banyak K-Pop, tapi kita harus tahu budaya asli Indonesia,” tuturnya.
Dalang Perempuan untuk Sekolah “Perempuan”
Malam puncak Ulang Tahun Emas ke-50 SMKN 4 Yogyakarta ini memang dikemas nyentrik. Lakon “Gendari Kembang Triloka” dibawakan oleh dalang perempuan hits, Elisha Orcarus Allasso.
Kepala SMKN 4 Yogyakarta, Nurlatifah Hidayati mengungkapkan alasan kuat di balik pemilihan dalang perempuan tersebut. Hal ini ternyata refleksi dari demografi sekolah mereka.
“Murid kita itu ada 1.900 anak, dan 1.700-nya adalah perempuan. Jadi gurunya pun banyak perempuan. Kami sengaja memilih dalang perempuan untuk menunjukkan ke anak-anak bahwa perempuan bisa hebat dan berkiprah di dunia wayang yang biasanya didominasi laki-laki,” tegasnya.
Sang Kepala Sekolah menyadari tantangan mendidik Gen Z. Strategi “keseimbangan otak kanan dan kiri” pun diterapkan. Siang harinya, sekolah memfasilitasi konser musik pop untuk mengakomodasi selera kekinian. Namun malam harinya, wayang kulit menjadi menu wajib sebagai penyeimbang moral.
“Anak-anak tidak boleh antipati dengan budaya asing, tapi budaya daerah harus tetap diangkat. Ini adalah pembelajaran berbasis budaya agar mereka punya karakter,” tambahnya.
Di balik kemeriahan tersebut terselip harapan besar di usia ke-50 tahun ini. SMKN 4 Yogyakarta yang memiliki lima kompetensi keahlian—Tata Boga (Kuliner), Tata Kecantikan, Tata Busana, Perhotelan, dan Usaha Layanan Pariwisata—ingin membuktikan kualitasnya.
Nurlatifah membeberkan data yang membanggakan. “Serapan kerja kita mencapai 80 persen. Tahun lalu saja, dari 600-an lulusan, 57 masuk perguruan tinggi, ratusan langsung bekerja di hotel, bakery, atau salon, dan sisanya berwirausaha,” jelasnya.
Bukan Sekadar Tontonan
Kepala Disdikpora DIY, Suhirman, mengapresiasi langkah berani sekolah ini. Ia menyebut pagelaran ini sebagai “pembelajaran di luar kelas”.
“Ini bukan sekadar tontonan, tapi tuntunan. Siswa tidak hanya duduk diam; mereka diberi tugas membuat karya tulis atau ringkasan cerita. Mereka harus mencatat tokoh sentral mana yang patut diteladani dan watak mana yang harus dijauhi,” ungkapnya.
Ia berharap, dukungan penuh dari komite sekolah dan orang tua—yang rela menjemput anaknya hingga larut malam—menjadi sinergi positif. “Tidak banyak sekolah yang menggelar acara wayangan semegah ini,” pujinya.
Malam itu, di bawah sorotan lampu kelir dan iringan gamelan, SMKN 4 Yogyakarta seolah menegaskan identitasnya sebagai Sekolah yang modern dalam kompetensi kerja, namun tetap memegang teguh akar budaya. (*)















