Jogja Printing Expo 2026 Dorong Kemandirian Industri Percetakan Jogja

0
19
Pembukaan Jogja Printing Expo 2026 di Jogja Expo Center Yogyakarta. (zukhronnee muhammad)

Yogyakarta kembali menegaskan posisinya sebagai simpul industri kreatif nasional dengan dibukanya Jogja Printing Expo (JPE) 2026, Rabu (8/4). Pameran yang berlangsung hingga 11 April ini tidak sekadar menjadi etalase teknologi, tetapi juga momentum strategis untuk memperkuat kemandirian industri percetakan lokal di tengah arus digitalisasi.

Mengusung misi peningkatan daya saing, JPE 2026 hadir menjawab tantangan nyata yang dihadapi pelaku usaha, termasuk fenomena “keluarnya” pesanan kemasan produk khas Yogyakarta ke luar daerah. Kondisi ini dinilai sebagai ironi di tengah kuatnya identitas kota sebagai pusat kreativitas.

Diselenggarakan untuk kedua kalinya oleh Krista Exhibitions, ajang ini dirancang sebagai ruang temu antara teknologi, pelaku usaha, dan pasar. Tidak hanya menampilkan mesin, pameran ini juga menjadi wadah pertukaran pengetahuan serta penjajakan peluang bisnis.

Ketua Umum Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI) Pusat, Ahmad Mughira Nurhani, secara tegas menyoroti persoalan mendasar yang masih terjadi di lapangan, khususnya pada industri kemasan produk lokal seperti bakpia.

“Harapannya dengan kehadiran JPE 2026, kawan-kawan percetakan di Jogja dapat memperbarui informasi mesin dan teknologi. Ekosistem industri ini harus terjadi di sini. Bakpia-nya banyak di Jogja, maka dusnya harus dicetak di Jogja,” tegas Ahmad Mughira dalam sambutannya pada Rabu (8/4/2026).

Pernyataan tersebut mencerminkan urgensi penguatan ekosistem industri grafika di tingkat lokal, agar nilai ekonomi tidak terus mengalir ke daerah lain.

Wali Kota Yogyakarta, Dr. dr. H. Hasto Wardoyo, dalam kesempatan yang sama menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital tidak serta-merta menggerus industri percetakan. Sebaliknya, sektor kemasan justru menunjukkan tren pertumbuhan yang signifikan.

“Jogja punya magic kreatifitas dan pusat desain. JPE 2026 ini sangat strategis karena meskipun Jogja bukan kota industri tambang, kita adalah industri jasa dan kreatif yang kuat,” ujar Hasto.

Ia menambahkan bahwa kebutuhan kemasan modern, khususnya di sektor makanan dan minuman, kini menjadi salah satu tulang punggung ekonomi kreatif yang tidak bisa diabaikan.

Dalam pameran ini, sebanyak 35 peserta turut ambil bagian, termasuk 15 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Mereka menampilkan beragam inovasi teknologi yang mencerminkan arah masa depan industri grafika.

Beberapa teknologi yang menjadi sorotan antara lain sistem pencetakan hybrid dan UV-curing yang memungkinkan produksi pada berbagai media non-kertas seperti akrilik, kayu, logam, hingga kulit—segmen yang sangat relevan dengan industri suvenir khas Jogja.

Selain itu, hadir pula mesin cetak berbasis otomasi yang terintegrasi dengan Internet of Things (IoT), memungkinkan pemantauan dan pengendalian produksi secara real-time. Inovasi ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga konsistensi kualitas.

Dari sisi regulasi, pameran ini juga menampilkan solusi kemasan food-grade yang sesuai dengan ketentuan Permen Perindustrian No. 6/2024. Teknologi ini menjadi krusial bagi pelaku industri makanan dan minuman yang dituntut memenuhi standar keamanan pangan.

Isu keberlanjutan turut menjadi perhatian melalui penggunaan tinta berbasis air (water-based ink) serta mesin hemat energi, sejalan dengan tuntutan industri ramah lingkungan.

CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim, menjelaskan bahwa JPE 2026 sengaja disinergikan dengan tiga pameran lainnya, yakni Jogja Food & Beverage Expo, Jogja Pack & Process Expo, dan Jogja All Tea Expo 2026.

“Kehadiran empat pameran ini dalam satu lokasi memperkuat integrasi antar sektor industri. Percetakan tidak bisa berdiri sendiri; ia adalah bagian tak terpisahkan dari pengemasan dan industri makanan-minuman. Melalui program Business Matching, kami mempertemukan peserta langsung dengan investor dan distributor untuk memperluas jaringan usaha,” jelas Daud.

Menurutnya, integrasi ini menjadi strategi penting untuk mempercepat pertumbuhan industri, terutama dalam menciptakan rantai pasok yang lebih efisien dan saling terhubung.

Di sisi lain, tantangan masih dirasakan oleh pelaku usaha kecil, terutama terkait kenaikan harga bahan baku yang berdampak langsung pada biaya produksi.

Ketua DPD PPGI DIY, Roni Sugiyanto, berharap kehadiran teknologi dalam pameran ini dapat menjadi solusi nyata bagi industri kecil menengah.

“Kami berharap teknologi di JPE ini memberikan efisiensi bagi kami untuk meningkatkan kualitas produk dan inovasi kreatif yang lebih baik agar bisa bertahan dan berkembang,” ungkapnya.

JPE 2026 mendapat dukungan dari berbagai pihak, mulai dari kementerian terkait, KADIN, hingga komunitas sosial. Sinergi ini diharapkan mampu memperkuat posisi Yogyakarta sebagai pusat industri kreatif berbasis desain dan inovasi.

Pameran ini masih akan berlangsung hingga Sabtu mendatang dan terbuka bagi masyarakat umum maupun pelaku usaha yang ingin melihat langsung perkembangan teknologi percetakan dan kemasan terkini. (*)