Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menepis narasi miring mengenai lesunya daya beli masyarakat dengan turun langsung ke jantung ekonomi rakyat, Pasar Beringharjo, Yogyakarta.
Didampingi Sri Sultan Hamengkubuwono X, Purbaya menegaskan bahwa kondisi pasar tradisional jauh dari kata “mati suri”.
“Ternyata di sini masih ramai dan omzetnya tinggi, perputarannya bisa sampai Rp2 triliun. Jadi kelihatannya tidak semati suri yang dibilang para pengamat itu,” ujar Purbaya di sela kunjungannya, Selasa (17/3/2026).
Tak sekadar memantau, Menkeu juga terlihat asyik berbelanja kaos dan kain batik. Ia bahkan sempat membandingkan harga yang dianggapnya jauh lebih terjangkau dibanding Jakarta.
“Saya belanja buat istri satu, baju satu. Kalau di Jakarta harganya bisa jutaan, di sini cuma ratusan ribu,” tuturnya sembari berkelakar.
Optimisme Menkeu juga merembet ke kebijakan fiskal. Di tengah isu pembelian rudal dari India, ia memastikan anggaran belanja negara tetap aman dan sudah terkunci, termasuk proyeksi hingga 2028. Program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) pun diklaim dalam posisi stabil.
Satu hal yang paling dinanti masyarakat adalah kepastian harga BBM. Purbaya menegaskan pemerintah masih memiliki bantalan uang yang cukup untuk menahan kenaikan harga.
“Kalau Pak Presiden mau (tahan harga) sampai akhir tahun juga bisa. Kita punya uang cukup banyak, yang pengamat-pengamat itu tidak tahu ada di mana,” tegasnya.
Namun, potret optimisme pemerintah ini mendapat catatan dari pelaku usaha kecil. Suhartati, salah seorang pedagang batik di Beringharjo, mengakui adanya lonjakan pengunjung hari ini.
Meski begitu, ia menyebut kondisi harian sebenarnya belum sepenuhnya pulih jika dibandingkan momen Lebaran tahun lalu.
“Pengunjung lebih banyak hari ini karena ada kunjungan, semoga ini jadi berkah dari Pak Purbaya dan Sultan agar pembeli makin ramai lagi ke depannya,” harap Suhartati. (*)














