
Ratusan becak listrik yang disalurkan melalui program CSR dan Dana Keistimewaan (Danais) untuk memodernisasi transportasi tradisional di Jogja hingga kini belum banyak terlihat di Malioboro.
Dalam pantauan selama satu jam, hanya satu becak listrik terlihat mengangkut penumpang. Empat unit lainnya tampak mangkal. Di saat yang sama, ironisnya puluhan becak motor (bentor) terparkir bebas di badan jalan, sepanjang cekungan andong dan sirip Malioboro. Bentor juga dengan leluasa lalu-lalang melawan arah membawa wisatawan.
Masalahnya ternyata bukan semata becak listrik rusak.
Supri (60), pengayuh becak yang ditemui di Malioboro, mengatakan banyak penerima bantuan justru memilih menyimpan becak listrik di rumah dan tetap menggunakan bentor.
“Barangnya itu ada, tapi cuma disimpan di rumah, tidak dikeluarkan. Dari puluhan unit bantuan di kelompok kami, paling sekitar tiga unit yang tiap hari keluar narik,” kata Supri saat ditemui Sabtu (8/8/2026).
Ia tak menampik unit generasi awal pengadaan 2023 sempat memiliki persoalan teknis. Beberapa komponen kemudian diperbaiki dan diganti. Pengayuh yang masih aktif bahkan melakukan modifikasi sendiri pada sejumlah komponen agar becak tetap bisa digunakan.
Menurut Supri, keberadaan bentor menjadi salah satu alasan pengayuh belum beralih sepenuhnya. Selama penggunaan bentor tidak dilarang, becak listrik dinilai belum menjadi pilihan utama. Pemilik becak memilih bentor karena dinilai lebih praktis dan bertenaga.
“Kalau malam ke sini (saat Malioboro ditutup untuk kendaraan bermotor), jalanan itu seperti punya bentor sendiri. Selama belum diwajibkan secara penuh, ya becak listrik tetap disimpan,” ujarnya.
Persoalan lain adalah pendapatan pengayuh yang kian tergerus moda transportasi lain, selain bentor, ojek daring dan bajai membuat mencari penumpang semakin sulit.
“Mencari penumpang sehari sekali saja sekarang susah, Tapi kami masyarakat kecil tidak punya banyak pilihan untuk protes, kami cuma mengikuti aturan saja,” tutupnya. (*)












