Indosat Dorong Talenta AI Indonesia Tak Sekadar Jadi Pengguna Teknologi

0
4
Direktur Utama dan CEO Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha saat berbicara dalam peluncuran UGM Indosat NVIDIA AI Technology Center di GIK UGM. (zukhronnee muhammad)

Indonesia memiliki peluang besar menjadi pencipta inovasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), tetapi tantangannya bukan kekurangan talenta. Direktur Utama dan CEO Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, menilai kesempatan untuk mengembangkan kemampuan AI masih belum merata.

“Namun yang terpenting, masyarakat harus merasakan manfaatnya. Kami memproduksi di Indonesia untuk Indonesia dan untuk dunia,” tuturnya saat peluncuran UGM Indosat NVIDIA AI Technology Center di GIK UGM, Kamis (13/8/2026).

Menurut Vikram, investasi pada manusia menjadi bagian penting agar Indonesia siap menghadapi perkembangan AI. Pemanfaatan teknologi tersebut juga perlu diarahkan untuk meningkatkan produktivitas masyarakat, termasuk di sektor pertanian, pendidikan, dan tenaga kesehatan.

Indosat memilih Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai salah satu mitra karena dinilai memiliki komitmen kuat terhadap riset dan inovasi. Menurut Vikram, pengembangan pusat AI tidak cukup hanya mengandalkan dukungan finansial. Waktu dan keseriusan seluruh pihak yang terlibat juga menjadi faktor penting.

“Ini soal penelitian, ini soal inovasi. Jadi, komitmennya bukan soal uang, melainkan soal waktu bagi semua orang,” jelasnya.

UGM bersama Indosat Ooredoo Hutchison dan NVIDIA meluncurkan UGM Indosat NVIDIA AI Technology Center sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem AI nasional. Pusat tersebut diarahkan agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu menciptakan inovasi dan mengembangkan talenta berbasis AI untuk menjawab berbagai persoalan di dalam negeri.

Rektor UGM Prof. dr. Ova Emilia mengatakan UGM sejak 2023 berkomitmen mengoptimalkan pemanfaatan AI dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Salah satunya melalui pengembangan UGM AI Society sebagai wadah kolaborasi lintas disiplin.

“Sejak tahun 2023, UGM telah berkomitmen untuk mewujudkan universitas cerdas melalui optimalisasi pemanfaatan AI di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Salah satu upaya tersebut adalah menginisiasi pengembangan UGM AI Society,” jelasnya.

Ova menuturkan UGM telah melakukan berbagai riset AI yang berkembang dan memberikan kontribusi di tingkat nasional maupun internasional. Riset tersebut mencakup pemanfaatan AI untuk penanganan pandemi Covid-19, etika AI, dukungan diagnosis tuberkulosis, serta teknologi pertanian pintar.

Kolaborasi tersebut juga menghasilkan sejumlah produk untuk menjawab kebutuhan masyarakat, di antaranya aplikasi manajemen bencana dan platform AI untuk analisis serta pengambilan keputusan berbasis data. Ada pula teknologi smart agriculture yang mengintegrasikan Internet of Things (IoT), komputasi awan, dan AI.

“Kami berharap sinergi ini akan terus melahirkan solusi inovatif di bidang AI, serta terobosan teknologi yang akan bermanfaat bagi Indonesia dan berkontribusi pada kemajuan ilmu pengetahuan di kancah global,” tuturnya.

Sementara itu, Vice President of Solutions Architecture and Engineering NVIDIA Marc Hamilton menjelaskan pentingnya infrastruktur AI atau AI Factory untuk mendukung pengembangan teknologi tersebut. Ia mengibaratkan AI Factory seperti pabrik yang mengolah data sebagai bahan baku menjadi model AI yang menghasilkan nilai.

“AI Factory adalah konsep yang sangat menarik. Prinsip kerjanya sama seperti reaktor. Menerima bahan baku, mengolahnya, dan menghasilkan barang jadi,” ucapnya.

Menurut Hamilton, Indonesia memiliki modal talenta yang besar. Ia menyebut lebih dari 500.000 pengembang perangkat lunak Indonesia terdaftar di GitHub. Namun, pengembangan AI membutuhkan infrastruktur komputasi yang lebih besar.

Karena itu, akses terhadap AI Factory perlu diperluas agar mahasiswa, universitas, dan perusahaan di Indonesia dapat mengembangkan teknologi AI secara mandiri.

NVIDIA juga menyediakan model terbuka yang dapat digunakan universitas maupun perusahaan untuk mengembangkan model AI sendiri. Hasil pelatihan menggunakan data institusi tetap menjadi milik institusi yang melakukan pelatihan tersebut.

“Setiap universitas atau perusahaan di sini yang tidak mampu mengeluarkan dana sebesar satu miliar dolar dapat memulai dengan menggunakan model kami, kemudian mengembangkan model mereka sendiri, dan memiliki hasil yang diperoleh,” katanya.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Prof. Stella Christie menekankan pentingnya kedaulatan data dalam pengembangan AI Indonesia. Ia mengingatkan agar Indonesia tidak menyerahkan data secara cuma-cuma kepada negara lain untuk meningkatkan kemampuan algoritma mereka.

“Kita boleh memperdagangkan data kita. Kita boleh menjual data kita untuk mendapatkan imbalan, tetapi kita tidak boleh sama sekali memberikan data tersebut,” jelasnya.

Stella meminta pusat AI bersama UGM memiliki target yang jelas dan berorientasi pada kebutuhan Indonesia. Menurutnya, pusat AI tidak boleh berhenti pada aktivitas maupun pembangunan prototipe, tetapi harus mampu menghasilkan solusi yang benar-benar bermanfaat.

“Tugas utama sebuah pusat AI saat ini di atas segalanya adalah mengantisipasi. Mengantisipasi apa yang akan terjadi dan kapan hal itu akan terjadi,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya mengetahui persoalan yang hendak diselesaikan, waktu yang tepat untuk mengadopsi teknologi, serta pihak yang akan mengoperasikan AI dengan tetap menempatkan manusia sebagai pengendali.

Menteri Komunikasi dan Digital RI Meutya Hafid mengatakan UGM dipilih setelah melalui proses penjajakan terhadap sejumlah perguruan tinggi. UGM dinilai menunjukkan keseriusan, mutu riset, dan inovasi yang kuat.

“Keseriusan, mutu riset, dan juga inovasi yang kuat yang membuat hari ini kita bisa tiba pada tahap ini,” ujar Meutya.

Meutya mengatakan AI Technology Center tersebut merupakan bagian dari inisiatif Indonesia AI Center of Excellence yang dipimpin Kementerian Komunikasi dan Digital dengan dukungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan perusahaan teknologi dinilai penting untuk memperkuat kemampuan AI nasional sekaligus menghasilkan solusi bagi persoalan nyata di Indonesia.

Ia juga mendorong penerapan pendekatan sovereign cloud agar pengelolaan pusat data tetap berada dalam yurisdiksi Indonesia dan memenuhi standar keamanan yang diperlukan.

“Kedaulatan AI tidak berarti Indonesia mengisolasi diri atau harus mengembangkan semua teknologi sepenuhnya sendiri. Kolaborasi dan kedaulatan dapat berjalan beriringan,” kata Meutya.

Menurut Meutya, keberhasilan pusat AI tidak cukup diukur dari banyaknya kegiatan pelatihan maupun prototipe yang dihasilkan. Indikator utamanya adalah peningkatan kompetensi talenta, pemanfaatan solusi oleh publik dan industri, hingga lahirnya inovasi dan kekayaan intelektual yang dikembangkan Indonesia.

“Keberhasilan harus terlihat dalam pengembangan talenta dan kompetensi, penerapan temuan-temuan penelitian terbaru, solusi yang dimanfaatkan oleh masyarakat dan industri, serta inovasi dan kekayaan intelektual yang dikembangkan oleh Indonesia,” tutup Meutya. (*)