Ketika Hati Bicara Lebih Keras dari Logika, Narasi Empatik Jadi Senjata Ampuh

0
117
Pameran Dari Narasi Menjadi Aksi di Jakarta. (istimewa)

Di tengah hiruk pikuk media sosial yang dipenuhi konten viral dan buzzer, sebuah pertanyaan menggantung: bagaimana menyuarakan isu lingkungan tanpa tenggelam dalam lautan informasi? Jawabannya ternyata sederhana namun mendalam – sentuh hati, baru kemudian pikiran.

“Kepercayaan dinilai lebih berharga dari kebenaran,” ujar Michelle Winowatan, Impact Strategy and Partnership Lead Purpose, dalam acara ‘Cerita untuk Cipta: Dari Narasi Menjadi Aksi’ di Jakarta, Selasa (3/6/2025). Kalimat ini seperti menampar keras mereka yang masih berkutat dengan data dan fakta tanpa memahami psikologi massa.

Saat Populisme Jadi Raja, Emosi Menang atas Logika

Yanuar Nugroho, pendiri NALAR Institute yang juga dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, mengungkap fenomena menarik: pendekatan populisme kini mendominasi cara penyelesaian masalah publik. “Ini membuat persoalan kompleks disederhanakan menjadi sentimental dan emosional,” jelasnya dengan nada prihatin.

Dampaknya? Masyarakat mengalami disonansi kognitif – tekanan psikologis saat menerima informasi yang tidak konsisten. Di sinilah narasi empatik berperan sebagai penyelamat. “Komunikasi yang efektif harus menyentuh sisi emosional, bukan hanya rasional,” tegas Yanuar yang juga menjabat sebagai Visiting Senior Fellow di ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapura.

Paradoks Zaman Digital: Banjir Informasi, Kekeringan Isu

Evi Mariani, Pemimpin Umum Project Multatuli, melukiskan kondisi paradoksal ekosistem informasi saat ini dengan analogi yang mencengangkan: “Ada banjir informasi namun di lain sisi ada kekeringan dari isu-isu yang diabaikan dan suara-suara yang tidak didengar.”

Isu lingkungan menjadi korban utama fenomena ini. Mengapa? Karena bersinggungan langsung dengan kepentingan oligarki politik yang didukung armada buzzer.

“Ini jadi tantangan bagi jurnalis, social campaigner, dan content creator untuk menyuarakan suara yang diabaikan,” ungkap Evi dengan penuh semangat.

Solusinya bukan berkelahi sendirian, melainkan berkolaborasi. “Kekuatan masyarakat sipil adalah kekuatan-kekuatan kecil yang bertaut dan bekerjasama,” jelasnya, seolah mengingatkan pepatah lama: bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.

Rahasia di Balik Kepercayaan: Pemuka Agama Lebih Dipercaya dari Saintis

Hasil survei terbaru Purpose mengungkap fakta mengejutkan: masyarakat muslim Indonesia paling percaya kepada pemuka agama soal isu lingkungan – bahkan lebih dari para saintis! Michelle Winowatan menegaskan pentingnya memiliki komunikator kredibel untuk setiap isu.

“Kepercayaan dan kredibilitas akan berpotensi berlanjut ke aksi yang lebih besar,” ujarnya.

Temuan ini membuka mata betapa pentingnya pendekatan hyperlocal yang disesuaikan dengan keberagaman demografis Indonesia. Pesan utama menyesuaikan dengan masyarakat yang beragam karena sebetulnya mereka punya pengetahuan dan kapabilitas namun terhambat secara struktural.

Nicholas Saputra: Melawan Tirani Algoritma dengan Komunitas Kecil

Aktor sekaligus aktivis lingkungan Nicholas Saputra memberikan perspektif unik tentang strategi kampanye. Menurutnya, fokus pada satu isu spesifik dalam komunitas kecil justru lebih efektif ketimbang mengejar viral di media sosial.

“Memang sulit untuk membuat satu isu spesifik bisa relevan dengan jutaan orang tapi bekerja dengan komunitas kecil akan lebih mudah karena itu isu yang betul-betul kita ketahui,” jelasnya.

Pendekatan ini menjadi antitesis dari dominasi algoritma media sosial, meski Nicholas mengakui masih ada godaan untuk “di-like oleh dua juta orang.”

Movement Generosity: Berbagi Strategi hingga Kegagalan

Longgena Ginting, Indonesia Country Director Purpose, memperkenalkan konsep “movement generosity” – semangat berbagi pengalaman, strategi, bahkan kegagalan untuk memperkuat gerakan secara kolektif. “Gerakan sosial adalah nadi perubahan sistemik, dan komunikasi yang dibangun secara strategis adalah senjatanya,” tegasnya.

“Meski cara-caranya berganti namun esensi komunikasi tetap relevan dalam gerakan,” papar Longgena, menekankan bahwa kekuatan narasi menjadi landasan Purpose dalam membangun komunikasi strategis.

Dari Sedekah Energi hingga Vaksin: Bukti Nyata Narasi Empatik

Purpose tidak hanya bicara teori. Berbagai inisiatif telah diimplementasikan dengan pendekatan narasi empatik:

MOSAIC (Muslims for Shared Action on Climate Impact) menggagas pemberdayaan umat untuk aksi iklim melalui skema Sedekah Energi, Wakaf Hutan, dan Umat Untuk Semesta – menggabungkan nilai spiritual dengan aksi lingkungan.

”Jogja Lebih Bike” mengampanyekan pengurangan polusi udara dan emisi karbon dengan pendekatan lokal yang akrab dengan budaya Yogyakarta.

Di Bali, kolaborasi dengan pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat melalui Kembali Becik mendorong narasi pengurangan emisi sektor pariwisata.

Bahkan di bidang kesehatan, Pilih Pulih dan Klinik Misinformasi berhasil meningkatkan kepercayaan publik terhadap vaksin Covid-19 dengan pendekatan komunikasi yang menyentuh emosi.

Yang paling menarik, kampanye #PilahPilih mengajak anak muda menyuarakan isu lingkungan dalam menentukan pilihan politik pada Pemilu dan Pilkada 2024 – membuktikan bahwa narasi empatik bisa menjembatani generasi.

Era Baru Komunikasi Sosial

Acara yang diselenggarakan Purpose Indonesia ini bukan sekadar diskusi akademis. Ini adalah blueprint untuk gerakan sosial di era digital – di mana hati bicara lebih keras dari logika, kepercayaan mengalahkan kebenaran, dan komunitas kecil bisa menggerakkan perubahan besar.

Seperti kata pepatah, “People don’t care how much you know until they know how much you care.” Di sinilah letak kekuatan narasi empatik: ketika kita peduli pada audiens, mereka pun akan peduli pada pesan kita.(*}