
Ruang digital kini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi perempuan. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, perempuan semakin leluasa menyuarakan aspirasi dan memperluas jejaring, namun pada saat yang sama juga menghadapi ancaman berupa hoaks, ujaran kebencian, hingga kekerasan berbasis gender yang marak terjadi di internet.
Isu tersebut mengemuka dalam pembukaan International Conference on Aisyiyah Studies (ICAS) 2026 yang digelar secara hibrida di Kampus Terpadu Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Kamis (11/6/2026).
Sekretaris Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Tri Hastuti Nur Rochimah, mengatakan tantangan digital menjadi salah satu persoalan global yang harus dihadapi bersama. Menurutnya, ruang digital harus dimanfaatkan untuk memperkuat solidaritas dan melindungi kelompok rentan.
“Solidaritas menjadi prinsip penting dalam membela kelompok rentan dan mendorong pembangunan yang berkelanjutan,” ujar Tri Hastuti.
Selain persoalan digital, ia juga menyoroti berbagai krisis global lain, mulai dari perang, genosida, kemiskinan ekstrem yang masih menjerat lebih dari 600 juta penduduk dunia, hingga ketidakadilan ekologis yang memicu krisis pangan dan hilangnya keanekaragaman hayati.
Menurut Tri Hastuti, selama 109 tahun perjalanan organisasi, ‘Aisyiyah telah menunjukkan bahwa perempuan mampu menjadi agen perubahan dalam menghadapi berbagai persoalan kemanusiaan dan pembangunan.
Konferensi bertema “Strengthening Solidarity, Nurturing the Earth: Progressive Muslim Women’s Leadership for a Sustainable Civilization” tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Milad ke-109 ‘Aisyiyah, 35 tahun Unisa Yogyakarta, serta 100 tahun Majalah Suara ‘Aisyiyah.
Rektor Unisa Yogyakarta, Warsiti, mengatakan ICAS 2026 merupakan ikhtiar intelektual gerakan perempuan berkemajuan menuju Muktamar ‘Aisyiyah 2027 di Sumatera Utara.
Ia menilai dunia saat ini membutuhkan kepemimpinan perempuan yang adil dan inklusif untuk menjawab berbagai ketimpangan sosial dan krisis kemanusiaan.
“UNISA Yogyakarta lahir dari gerakan perempuan, tumbuh bersama gerakan perempuan, dan akan terus berkontribusi untuk kemajuan perempuan melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat,” kata Warsiti.
Sementara itu, Ketua Pelaksana ICAS 2026, Alimatul Qibtiyah, menyebut konferensi tahun ini mendapat respons tinggi dari akademisi, peneliti, mahasiswa, dan praktisi dari berbagai daerah serta negara. Panitia menerima 135 abstrak dan 115 makalah lengkap yang dipresentasikan dalam forum tersebut.
Dari pemetaan panitia, transformasi digital menjadi isu yang paling banyak mendapat perhatian peneliti. Tema ini mencakup pembahasan mengenai otoritas keagamaan, pemanfaatan teknologi, serta keterlibatan organisasi perempuan Muslim dalam ruang media digital.
Selain itu, riset yang masuk juga banyak mengangkat studi sejarah dan historiografi ‘Aisyiyah serta isu keberlanjutan lingkungan dan jihad ekologis sebagai respons terhadap krisis ekologi dan keadilan sosial.
Untuk mengakomodasi peserta, ICAS 2026 diselenggarakan melalui delapan kelas paralel luring di Unisa Yogyakarta dan tujuh kelas paralel daring.
Forum ini diharapkan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang dapat memperkuat peran perempuan Muslim dalam menjawab tantangan sosial, digital, dan lingkungan. (*)













