Krisis layanan transportasi publik melanda Trans Jogja Jalur 14 rute Bandara Adisutjipto–Pakem. Keputusan pengurangan armada secara drastis dari empat unit menjadi hanya dua unit sejak akhir 2025 berdampak fatal.
Penumpang kini dipaksa menunggu hingga 1,5 jam di halte, memicu kemarahan publik yang viral di media sosial sejak Kamis (5/2/2026).
Pemangkasan 50 persen armada ini membuat interval kedatangan bus (headway) menjadi tidak masuk akal untuk standar angkutan perkotaan.
Akun X @merapi_uncover mengungkap realita di lapangan di mana penumpukan penumpang terjadi setiap hari, diperparah dengan kondisi bus yang kian menurun dan jadwal yang tidak fleksibel.
“Menunggu 1,5 jam itu penyiksaan bagi pelajar dan pekerja. Bahkan kadang bus lewat tanpa berhenti karena sudah penuh sesak,” tulis keluhan warganet.
Ironisnya, di tengah situasi mendesak ini, respon otoritas terkait dinilai lamban.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DIY, Chrestina Erni Widaystuti, Jumat (6/2/2026), menegaskan bahwa pihaknya tidak bisa berintervensi jauh karena Jalur 14 kini berstatus angkutan pedesaan pengganti layanan Teman Bus.
“Penyediaan angkutan pedesaan pada jalur tersebut berada di bawah kewenangan Pemkab Sleman,” tegas Erni.
Namun, hingga berita ini diturunkan, Pemkab Sleman maupun Dishub Sleman belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait solusi darurat penambahan armada.
Sikap pasif ini disayangkan mengingat Jalur 14 adalah nadi vital bagi pelajar, pekerja harian, dan akses wisata ke Kaliurang. (*)














