
Kasus dugaan kekerasan terhadap anak di daycare Little Aresha turut menjadi sorotan dalam Sarasehan Nasional bertajuk “Resiliensi Berbasis Budaya: Kesehatan Mental, Pendidikan, dan Pembentukan Karakter untuk Menjawab Tantangan Zaman” yang digelar di Grha Budaya, Embung Giwangan Yogyakarta, 2 Mei 2026.
Forum yang mempertemukan pakar lintas disiplin ini menilai kasus tersebut sebagai alarm serius atas lemahnya sistem pengasuhan dan perlindungan anak di tengah perubahan sosial yang cepat.
Kegiatan ini juga menandai 20 tahun kiprah Kemuning Kembar Prawara Witatama, sekaligus peresmian Pusat Kajian dan Pendidikan Anak-Keluarga Berbasis Budaya.
Pemrakarsa Kemuning Kembar, Dr. Indria Laksmi Gamayanti, M.Si., Psi., menegaskan bahwa fenomena seperti yang terjadi di daycare menjadi contoh nyata pentingnya pendekatan komprehensif dalam pengasuhan anak.
“Kita melihat meningkatnya masalah kesehatan mental, krisis nilai, hingga melemahnya relasi sosial. Kasus-kasus seperti ini menunjukkan bahwa pengasuhan tidak bisa dipandang sederhana,” ujarnya di sela acara pada Sabtu (2/5/2026).
Indria mengaitkan kasus tersebut dengan konsep adverse childhood experiences atau pengalaman masa kecil yang tidak menyenangkan, yang berpotensi meninggalkan dampak jangka panjang.
“Pengalaman masa kecil yang tidak baik itu bisa meninggalkan luka yang terbawa sampai dewasa. Ini harus dipantau secara serius,” katanya.
Ia menekankan perlunya asesmen psikologis menyeluruh, baik terhadap anak maupun orang tua, sebagai langkah awal penanganan.
“Perlu ada pemeriksaan psikologis yang komprehensif, tidak hanya pada anak-anak tetapi juga orang tua. Orang tua harus diedukasi bagaimana mengelola emosi mereka,” ujarnya.
Menurutnya, dalam banyak kasus, kondisi emosional orang tua turut memengaruhi proses pemulihan anak.
“Orang tua adalah pengasuh sekaligus terapis utama. Kalau mereka dalam kondisi tidak stabil, pendampingan pada anak tidak akan optimal,” ucapnya.
Ia juga mengungkapkan sejumlah gejala yang muncul pada anak pascakejadian traumatis, seperti mudah marah, ketakutan berlebihan saat ditinggal, hingga mimpi buruk berkepanjangan.
“Ada anak yang menjadi sangat lengket dengan orang tua, ada yang mengalami mimpi buruk, dan perubahan perilaku lain yang menunjukkan adanya tekanan psikologis,” katanya.
Terkait dugaan perubahan perilaku yang lebih kompleks, Indria menegaskan perlunya kajian lebih lanjut secara ilmiah dan profesional.
“Itu masih perlu dikaji lebih lanjut. Yang penting saat ini adalah memastikan anak mendapatkan pendampingan yang tepat, baik dari orang tua maupun tenaga profesional,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemerintah daerah mulai mendorong kolaborasi dengan psikolog untuk menghadirkan program pendampingan yang lebih sistematis.
“Saya kira sudah mulai ada program dari pemerintah daerah yang melibatkan psikolog. Kami juga siap jika dibutuhkan,” katanya.
Meski demikian, sarasehan tetap menekankan pendekatan preventif melalui penguatan nilai budaya dalam pendidikan dan pengasuhan. Indria menyebut warisan budaya Nusantara memiliki potensi besar sebagai metode pembentukan karakter dan ketahanan mental.
“Budaya bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi sumber daya psikologis yang bisa menjadi fondasi resiliensi,” ujarnya.
Sarasehan menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Dr. Restu Gunawan, Ruby Chaerani Syiffadia, GKR Hayu, dan Tika Bisono, serta menampilkan pementasan Langen Carita “Jejeging Kautaman” dan Tari “Pitik Walik Jambul” sebagai media edukasi karakter.
Melalui forum ini, para peserta mendorong lahirnya sistem pendidikan dan pengasuhan yang lebih manusiawi, berbasis budaya, serta mampu merespons persoalan riil seperti kasus daycare, guna mencegah dampak jangka panjang terhadap kesehatan mental anak. (*)













