
Polisi mengungkap fakta baru dalam kasus tewasnya AA (17), pelajar yang dibacok di depan SMA Negeri 3 Jogja pada Minggu (17/5/2026) dini hari.
Korban ternyata bukan target utama tawuran, melainkan menjadi korban salah sasaran setelah bertemu secara tidak sengaja dengan rombongan pelaku di jalan.
Kapolresta Jogja, Kombes Pol Eva Guna Pandia menjelaskan, sebelum kejadian korban bersama rekannya berangkat dari kawasan Gejayan menuju Jalan Magelang untuk mencari kelompok lawan karena sebelumnya ada janji tawuran dengan kelompok lain.
Di waktu yang sama, enam anggota salah satu geng pelajar berbeda sedang berpatroli di Jalan Magelang. Saat berpapasan, rombongan pelaku menghampiri korban dan bertanya, “Sekolah ngendi kowe?”
Korban menjawab singkat, “Kepo.” Jawaban itu disebut memicu emosi pelaku. Saat ditanya kembali, korban kembali menjawab, “Ora sekolah.”
Situasi memanas di bundaran Samsat ketika korban disebut sempat berteriak menantang. Kelompok pelaku yang semula melaju menjauh langsung berbalik arah dan mengejar korban hingga kawasan Kotabaru.
“Kelompok korban sebenarnya bukan janjian tawuran dengan kelompok ini. Mereka bertemu secara tidak sengaja, kemudian terjadi saling tantang yang berujung pada penyerangan,” kata Eva saat konferensi pers, Jumat (22/5/2026).
Setibanya di Jalan Yos Sudarso, korban yang berusaha meminta pertolongan kepada warga justru diserang. Salah satu pelaku turun dari sepeda motor lalu mengayunkan celurit ke arah dada korban.
Luka tusukan menembus dinding dada depan hingga menyebabkan pendarahan pada selaput jantung.
Korban sempat dilarikan ke RS Panti Rapih, namun nyawanya tidak tertolong.
Kasatreskrim Polresta Jogja Kompol Riski Adrian mengatakan, polisi telah menangkap tiga pelaku, yakni LTF alias Lupek (18), YSF alias Ucup (18), dan FHM alias Fahmek (17). Tiga pelaku lainnya masih diburu.
Menurut Riski, pelarian para tersangka ke Cilacap diduga diatur buronan berinisial SR yang disebut sebagai otak pelarian.
“SR ini yang memberikan fasilitas pelarian, mulai dari menyiapkan rumah persembunyian, menyewa mobil, hingga mengantar para pelaku ke Cilacap. Ini masih kami buru,” tutupnya. (*)













