
Jenarwan, peternak sapi perah dari Jemowo, Boyolali, dulu hanya mengandalkan intuisi dalam beternak. Kini, ia mengelola usahanya layaknya CEO dengan pencatatan produksi digital, manajemen keuangan profesional, dan teknologi biogas yang menghemat pengeluaran energi hingga jutaan rupiah per bulan.
Transformasi spektakuler ini bukan cerita tunggal. Sebanyak 511 peternak di Jawa Tengah dan DIY mengalami revolusi serupa melalui Program FRESH (Farmer Resilience and Enhanced Sustainable Husbandry) yang diinisiasi Sarihusada Generasi Mahardhika bersama Danone Ecosystem dan Yayasan Rumah Energi sejak 2023.
“Dulu saya menganggap beternak hanya soal memberi makan dan memerah susu. Sekarang saya memahami pentingnya pencatatan produksi, kesehatan ternak, dan manajemen keuangan,” ungkap Jenarwan dalam Lokakarya FRESH di Kaliurang, Selasa (29/7/2025).
Dampaknya? Kualitas susu meningkat drastis dengan kandungan lemak dan protein yang lebih baik, produksi harian bertambah, plus penghematan biaya energi berkat 172 unit instalasi biogas yang telah dibangun program ini.
Bio-slurry hasil olahan biogas tidak hanya memangkas pengeluaran, tetapi juga dimanfaatkan sebagai pupuk hijauan yang memberikan manfaat ganda bagi produktivitas dan ketahanan pangan lokal.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Dr. drh. Agung Suganda, M.Si, menyebut Program FRESH sebagai model pengembangan peternakan masa depan yang menyeluruh, berkelanjutan, dan berdaya saing.
“Program ini tidak hanya menjawab tantangan produktivitas dan regenerasi peternak, tapi juga menjadi solusi adaptif terhadap perubahan iklim,” tegas Agung di hadapan jajaran Dinas Peternakan dari DIY, Jawa Tengah, dan kabupaten-kabupaten terkait.
Pendekatan FRESH yang menggabungkan pelatihan teknis, digitalisasi, hingga penguatan koperasi dinilai sangat selaras dengan kebijakan Kementan dan diharapkan bisa direplikasi di banyak daerah.
Senior Director Public Affairs & Sustainability Danone Indonesia, Karyanto Wibowo, menegaskan bahwa FRESH mencerminkan komitmen jangka panjang membangun ekosistem susu yang inklusif dan berkelanjutan.
“Keberhasilan industri susu tidak bisa dilepaskan dari kesejahteraan peternak sapi perah rakyat sebagai garda terdepan. FRESH bukan hanya tentang meningkatkan produksi, tapi memperkuat kapasitas, akses teknologi, dan kelembagaan,” ujarnya.
Kolaborasi melibatkan Kementerian Pertanian, Dinas Peternakan provinsi dan kabupaten, Dinas Koperasi dan UMKM, Fakultas Peternakan dan Kedokteran Hewan UGM, koperasi susu, hingga perwakilan peternak langsung.
Hingga pertengahan 2025, Program FRESH telah mencatat prestasi signifikan:
- 511 peternak dan 6 koperasi didampingi intensif
- Total populasi sapi berkembang menjadi 142 ekor termasuk 18 ekor bunting
- 43 peternak penerima manfaat mengelola ternak dengan metode modern
- 172 unit instalasi biogas baru dan perbaikan 27 unit lainnya
- Peningkatan kualitas susu dari segi kandungan lemak dan protein
Program FRESH melanjutkan jejak komitmen Sarihusada yang telah berlangsung tujuh dekade. Sejak berdiri 1954, perusahaan ini konsisten memperkuat ekosistem susu lokal melalui Program Peningkatan Mutu Susu (1991), Proyek Merapi pasca-bencana (2012), hingga program regenerasi peternak (2021).
Direktur Eksekutif Yayasan Rumah Energi, Sumanda Tondang, menekankan pentingnya intervensi teknologi tepat guna.
“Ketika peternak diberi akses pelatihan, teknologi, dan pendampingan, mereka bisa mandiri dengan hasil yang menguntungkan semua pihak,” ujarnya.
Dukungan terhadap peternak bukan sekadar soal pasokan, tetapi kontribusi nyata bagi ketahanan pangan, perbaikan gizi, pencegahan stunting, dan penguatan ekonomi lokal yang berkelanjutan.(*)













