
Pemerintah Daerah (Pemda) DIY memastikan kawasan Malioboro akan mulai menerapkan full pedestrian pada November 2026. Keputusan itu diambil setelah melihat tingginya kepadatan kendaraan selama libur sekolah sekaligus untuk menjaga keberlanjutan kawasan Sumbu Filosofis.
Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, menegaskan penerapan kawasan bebas kendaraan itu tidak akan kembali ditunda.
“Kalau full pedestrian itu mau ditunda sampai kapan lagi?” ujarnya, Rabu (1/7/2026).
Pemda kini menyiapkan penataan akses di jalan-jalan sirip sekitar Malioboro melalui pemasangan portal. Rekayasa ini bertujuan menghentikan kendaraan yang selama ini masih lolos masuk ke koridor Malioboro dari Jalan Bhayangkara maupun Jalan Mataram saat jam pedestrian berlaku.
“Nanti kendaraan bisa masuk dari Bhayangkara atau Mataram, tetapi tidak menembus Malioboro. Yang terjadi sekarang justru masih banyak pelanggaran,” kata Made.
Kepala Dinas Perhubungan DIY, Chrestina Erni Widyastuti, mengatakan transformasi menuju kawasan ramah pejalan kaki sebenarnya sudah dimulai sejak 2016.
Persiapan tidak hanya berupa pembangunan fisik, tetapi juga penguatan sistem transportasi, kelembagaan, dan kesiapan masyarakat.
Lonjakan arus kendaraan dari arah Solo, Magelang, Wates, dan Bantul selama musim liburan, menurutnya, semakin menunjukkan perlunya perubahan pola mobilitas di pusat Kota Yogyakarta.
Meski berstatus full pedestrian, Malioboro tidak akan tertutup sepenuhnya. Trans Jogja, ambulans, mobil pemadam kebakaran, kendaraan keamanan, kendaraan operasional tertentu, serta tamu negara tetap diizinkan melintas.
Pemda juga masih mematangkan lokasi drop off bus pariwisata agar wisatawan tetap mudah mengakses Malioboro tanpa memicu kemacetan.
Menurut Made, penataan ini bukan untuk membatasi kunjungan wisatawan, melainkan menjaga kenyamanan pengunjung sekaligus melindungi kawasan Malioboro agar tetap lestari. (*)












