Ribuan Warga Jogja Sambut Bhikkhu Indonesia Walk for Peace, Tegaskan Pesan Toleransi dan Perdamaian

0
2
Para Bhikkhu peserta Indonesia Walk for Peace 2026 disambut sampai di Kompleks Kepatihan Yogyakarta. (zukhronnee muhammad)

Jogja menjadi saksi kuatnya pesan toleransi dan perdamaian saat rombongan Bhikkhu peserta Indonesia Walk for Peace 2026 disambut Pemda DIY, Senin (25/5/2026) di Kompleks Kepatihan.

Kedatangan para Bhikkhu yang menempuh perjalanan lintas daerah sepanjang 666 kilometer itu disambut hangat masyarakat dan pemerintah sebagai simbol nyata harmoni dalam keberagaman.

Indonesia Walk for Peace merupakan perjalanan spiritual tahunan para Bhikkhu yang menempuh perjalanan kaki jarak jauh melintasi sejumlah wilayah di Indonesia.

Kegiatan ini membawa pesan perdamaian, kebersamaan, dan toleransi lintas agama, sekaligus menjadi ruang perjumpaan antara para Bhikkhu dengan masyarakat di daerah yang dilalui.

Gubernur DIY Hamengku Buwono X mengatakan, perjalanan damai para Bhikkhu bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan refleksi perjalanan kehidupan sekaligus simbol langkah bersama menuju masa depan bangsa yang harmonis.

“Indonesia Walk for Peace bukan sekadar perjalanan fisik. Ini simbol langkah maju menuju masa depan bangsa yang harmonis dan bermartabat melalui penyebaran energi positif dan harmoni antarumat beragama,” ujarnya.

Menurutnya, semangat yang dibawa para Bhikkhu mempertegas nilai Bhinneka Tunggal Ika, bahwa keberagaman suku, agama, dan budaya adalah kekayaan yang justru mempersatukan bangsa.

Ngarsa Dalem menegaskan bahwa perbedaan adalah keniscayaan yang harus dipahami sebagai kehendak Tuhan.

“Perbedaan itu bukan untuk memisahkan, tetapi dipertemukan demi kepentingan kemanusiaan,” tuturnya.

Ketua Pusat Indonesia Walk for Peace 2026, Tosin, S.H., M.H., menyebut antusiasme warga sepanjang perjalanan menjadi bukti bahwa pesan damai diterima luas oleh masyarakat.

“Luar biasa. Semua elemen masyarakat, dari anak kecil sampai orang tua, menyambut dengan gembira. Bahkan ada yang memberi minum dan berlomba-lomba ingin menjadi tuan rumah tempat para Bhikkhu singgah,” katanya.

Ia menegaskan, gerakan jalan damai ini diharapkan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, mulai dari lingkup pribadi, keluarga, hingga kehidupan berbangsa dan bernegara. (*)