Aging population atau lonjakan jumlah warga lanjut usia (lansia) terjadi di DIY. Tercatat jumlah lansia di propinsi sudah mencapai 600.000 jiwa atau sekitar 16,8 persen dari total penduduk DIY, jauh dari rata-rata jumlah lansia di tingkat nasional baru di angka 12 persen dari total populasi.
Karenanya UGM menginisiasi pengembangan Sekolah Lansia di DIY. Salah satu kegiatan awalnya dengan membuka Sekolah Lansia di Kalurahan Sendangagung, Kapanewon Minggir, Sleman. Sekolah Lansia Standar 1 pertama yang menerapkan “Sinergi MultiHelix” ini merupakan kolaborasi UGM dengan Kalurahan Sendangagung, BKKBN Perwakilan DIY, DP3AP2KB Kabupaten Sleman, Indonesia Ramah Lansia, dan BKL Brajan.
Penggagas Sekolah Lansia dari UGM, Elastria Widita disela pembukaan Sekolah Lansia di Yogyakarta, Rabu (21/5/2025) mengungkapkan, Sekolah Lansia yang mulai digulirkan pemerintah daerah di tingkat kabupaten/kota lebih bermanfaat dalam pemberdayaan lansia di DIY lebih dari sekedar bantuan sosial (bansos).
“Kami tidak terlalu merekomendasikan bansos sebagai solusi jangka panjang bagi lansia karena bansos cenderung membuat lansia menjadi pasif dan konsumtif tapi lebih ke pemberdayaan melalui Sekolah Lansia,” paparnya.
Peneliti di Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UGM tersebut mengungkapkan, berbagai persoalan banyak dialami para lansia karena tidak berdaya. Sebut saja masalah kesehatan yang banyak dialami oleh lansia seperti hipertensi, diabetes, gigi ompong dan lainnya.
Karenanya program pemberdayaan melalui Sekolah Lansia mengurangi disfungsi tubuh, kesepian, dan penyakit kronis. Sebab Jika tidak ditangani secara holistik, kualitas hidup mereka akan terus menurun.
“Jika tidak ada prevensi yang tepat, maka dikhawatirkan kualitas hidup mereka akan terus menurun. Justru program seperti sekolah lansia ini yang kami dorong karena mendorong lansia untuk tetap aktif, sehat, dan berdaya,” ujarnya.
Sekolah Lansia laiknya program yang memiliki modul atau kurikulum. Karenanya keberadaan universitas menjadi penting dalam berperan dalam membuat kurikulum yang tepat bagi lansia untuk ikut program tersebut.
UGM, lanjutnya mendesain program Sekolah Lansia sebagai kolaborasi lintas disiplin. Kolaborasi FKG, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK), Fakultas Psikologi, dan Rumah Sakit Gigi dan Mulut dilakukan bersama dinas-dinas terkait dalam menerapkan program Sekolah Lansia di Yogyakarta.
Sekolah lansia yang dikembangkan UGM menyasar lansia yang masih bisa membaca dan menulis serta tidak mengalami depresi berat. Materi yang diajarkan antara lain terkait kesehatan, kebugaran, hingga keterampilan mental dan sosial, bahkan menggunakan kurikulum berjenjang seperti pendidikan formal S1, S2, hingga S3.
“Kami dari UGM berinisiatif untuk pertama kali membantu dinas, untuk memberdayakan masyarakat dan lansia dalam program sekolah lansia. Jadi apa yang kami dapatkan di universitas, dikelola secara akademik, itu bisa menyentuh masyarakat secara luas,” jelasnya.
Sementara Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Dinas P3AP2KB Sleman, Dwi Wiharyanti, menyatakan saat ini pemkab Sleman serius mengembangkan sekolah lansia sebagai bagian dari strategi jangka panjang pemberdayaan lansia.
“Per tahun 2025 kami menargetkan agar di setiap kalurahan ada kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL) dan penyelenggaraan sekolah lansia,” ujarnya.
Dwi menyebutkan, jumlah penduduk lansia di Sleman mencapai sekitar 15 persen dari total 1,1 juta penduduk di kabupaten tersebut. Ini menempatkan Sleman sebagai wilayah dengan kategori aging population yang tinggi di DIY.
Karenanya penyelenggarakan 15 Sekolah Lansia dengan dukungan dari APBD dilakukan di sejumlah kalurahan. Masing-masing sekolah dapat menampung antara 25 hingga 50 peserta. Dalam jangka panjang, Pemkab menargetkan satu sekolah lansia di setiap kalurahan.
Pemkab juga tengah menyiapkan fasilitator dari lulusan sekolah lansia, meski masih terkendala pembiayaan pelatihan. Dengan pendekatan berbasis komunitas dan partisipasi aktif, sekolah lansia diyakini dapat menjadi model baru pemberdayaan lansia di tengah meningkatnya populasi usia lanjut di DIY.
“Program ini bukan sekadar pendidikan, tapi juga membangun jejaring sosial, meningkatkan semangat hidup, dan menurunkan risiko penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes yang umum diderita lansia,” jelasnya.
Salah seorang lansia asal Sleman, Puji Purwanti mengaku, program Sekolah Lansia sangat penting bagi pemberdayaan lansia. Selama ini banyak kendala yang dialami lansia agar bisa lebih berdaya dan mandiri karena minimnya pengetahuan.
“Apalagi kalau lansia banyak ditinggal anak kerja dan tidak paham bagaimana menjaga kesehatan, bagaimana agar tidak pikun dan lainnya. Pengetahuan ini sangat penting bagi kami agar bisa tetap sehat dan tidak terlalu mengandalkan orang lain,” imbuhnya.(*)














