Ratusan ibu yang tergabung dalam Suara Ibu Indonesia menggelar aksi damai di Bundaran UGM, Jogja, Jumat (26/9/2025). Mereka menabuh panci sebagai simbol perlawanan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Aksi ini digelar setelah program prioritas pemerintah itu dinilai bermasalah karena memicu ribuan kasus keracunan. Data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat sedikitnya 8.000 korban sejak Januari–September 2025, termasuk lebih dari 1.300 siswa di Bandung Barat.
Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) mencatat 6.618 kasus hingga Kamis (25/9) malam. Korban bahkan ada yang masih TK, membuat ribuan orang tua panik.
“Ini tragedi. Anak-anak yang kami rawat penuh kasih sejak kandungan justru disakiti negara melalui program bermasalah,” tegas Kalis Mardiasih, pegiat Suara Ibu Indonesia.
Dalam aksinya, mereka menyuarakan lima tuntutan: hentikan MBG yang sentralistik, minta pertanggungjawaban Presiden, Badan Gizi Nasional (BGN), SPPG, dan dapur penyelenggara; bentuk tim pencari fakta; buka transparansi kasus; usut praktik rente dan korupsi; serta kembalikan pemenuhan gizi anak ke komunitas dan daerah.
“Kami berharap dentang panci ini jadi peringatan keras. Delapan ribu jiwa sudah terlalu banyak,” tambah Kalis.
Seorang ibu hamil juga menyoroti struktur baru BGN yang dibentuk lewat peraturan presiden. Ia mempertanyakan koordinasi lembaga ini dengan dinas kesehatan maupun dinas perlindungan perempuan dan anak yang selama ini menangani isu gizi.
Menurutnya, MBG belum menjawab kebutuhan mendasar yang dihadapi ibu dan anak sehari-hari. (*)














