Di tengah perubahan zaman, cara pandang masyarakat Yogyakarta terhadap masa depan anak mulai bergeser. Jika dulu pemeo “mangan ora mangan kumpul” identik dengan keengganan melepas anak merantau, kini sebagian orang tua mulai membuka diri terhadap peluang global.
Perubahan itu terlihat dalam acara kelulusan 112 siswa SMK Kesehatan Binatama yang digelar di Prima SR Hotel & Convention, Sleman, Senin (4/5/2026).
Dari ratusan lulusan tersebut, 22 siswa dipersiapkan untuk bekerja di Jepang setelah mengikuti program akselerasi bahasa sejak kelas XII.
Bagi para siswa, kelulusan tidak lagi sekadar penanda akhir masa sekolah. Sebagian sudah memiliki rencana jelas, bahkan tempat kerja, sebelum menerima ijazah. Kondisi ini menjadi salah satu indikator meningkatnya kesiapan lulusan SMK menghadapi dunia kerja.
Kepala Bidang Pembinaan SMK Dinas Dikpora DIY, Dr. Wiwik Indrayani, menyebut tantangan lulusan saat ini tidak hanya pada kemampuan teknis, tetapi juga kesiapan mental untuk keluar dari lingkungan yang selama ini dianggap nyaman.
“Ada rasa eman dan resah di hati orang tua saat anak ingin go international. Budaya kumpul ini kadang menjadi penghambat cita-cita. Padahal, bonus demografi sudah di depan mata. Jika tidak kita siapkan, ini akan jadi PR besar,” ujarnya pada Senin (4/5/2026).
Menurut dia, capaian SMK di DIY yang menempati peringkat pertama nasional dalam tes kemampuan kompetensi menjadi modal penting untuk memperluas peluang kerja hingga ke luar negeri.
Pemerintah daerah pun menyiapkan program “SMK Global” yang akan diluncurkan dalam waktu dekat, dengan target ribuan lulusan bisa terserap di pasar kerja internasional.
Di tingkat sekolah, strategi penyiapan lulusan dilakukan melalui pendekatan yang lebih terarah.
Kepala SMK Kesehatan Binatama, Nuri Hastuti, menjelaskan pihaknya menerapkan konsep BMW (Bekerja, Melanjutkan, dan Wirausaha) agar siswa memiliki lebih dari satu pilihan setelah lulus.
“Kami ingin lulusan tidak bingung setelah selesai sekolah. Sebagian sudah bekerja di apotek dan klinik, ada yang melanjutkan ke perguruan tinggi, dan ada juga yang siap berangkat ke Jepang,” kata Nuri.
Dari total 112 lulusan, terdiri atas 35 siswa Teknologi Farmasi dan 77 siswa Layanan Kesehatan. Sejumlah siswa bahkan telah direkrut sebelum kelulusan, menunjukkan adanya kebutuhan tenaga kesehatan tingkat menengah yang cukup tinggi.
Meski peluang terbuka, aspek nonteknis tetap menjadi perhatian. Wiwik menekankan pentingnya sikap dan karakter sebagai bekal utama di dunia kerja.
“Attitude itu penting. Di mana pun mereka bekerja, itu yang pertama dilihat,” ujarnya.
Sebagai bagian dari evaluasi, para lulusan juga diminta mengisi tracer study. Data tersebut digunakan untuk memantau sejauh mana lulusan terserap di dunia kerja atau melanjutkan pendidikan.
Acara kelulusan ditutup secara sederhana dengan penyerahan penghargaan kepada siswa berprestasi, di antaranya Rameyza Elya Chairunnisha dan Carissa Eka Widiastri.
Di hadapan orang tua dan tamu undangan, momen itu menjadi penanda awal langkah baru para lulusan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa orientasi pendidikan vokasi di Yogyakarta mulai mengarah pada kesiapan global.
Di sisi lain, keluarga perlahan menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut, termasuk menerima kemungkinan anak bekerja jauh dari rumah. (*)














