Belajar dari Dapur Darurat Bencana Merapi, Sultan Ingatkan Pola Masak Harus Jadi Kunci MBG

0
120
Siswa SMP diduga keracunan menu Makan Bergizi Gratis beberapa waktu lalu diperiksakan di Puskesmas. (dok jogjainfo)

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menyoroti kembali kasus keracunan massal yang menimpa siswa penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, kunci utama pencegahan ada pada pola memasak dan penyajian makanan yang tepat waktu.

“Sebetulnya nggak rumit, kenapa keracunan? Masaknya jam setengah 2 pagi, dimakan jam 08.00 saja sudah mesti wayu (basi). Udah itu pasti,” kata Sultan, Jumat (26/9/2025).

Sultan menilai keracunan tidak perlu dikaji dengan pendekatan rumit. Pengalaman pribadinya memasak di rumah membuatnya peka pada jenis makanan yang cepat basi, terutama sayur berkuah. Ia menegaskan, manajemen waktu menjadi penentu utama agar makanan tetap layak dikonsumsi siswa.

“Bisa nggak, 02.30 itu jangan masak sayur? Ya, kan? Tapi pagi baru masak sayur, toh dimakan jam 08.00 atau jam 10.00. Yang lain kira-kira digoreng dulu, itu didulukan,” ujarnya.

Tak hanya merujuk pada pengalamannya memasak sendiri, Sultan mengingatkan bahwa dapur darurat bencana di DIY pernah menjadi contoh pengelolaan makanan yang aman. Saat gempa 2006 hingga erupsi Merapi 2010, pola masak dan penyajian ditentukan dapur, sementara menu diserahkan kepada warga terdampak.

“Pengalaman saya pada waktu bencana, yang menentukan lauk adalah dapur. Begitu dimakan, ini makanan tidak enak, ya buang di halaman. Sudah itu finish,” tegasnya.

Menurut Sultan, pola sederhana seperti itu terbukti mampu mencegah kasus keracunan, berbeda dengan yang kini terjadi pada program MBG. Ia mendesak pemerintah mengevaluasi sistem pengolahan makanan agar kasus serupa tidak terus berulang.

“Korban itu tidak akan berkurang selama pola masak-pola masaknya tidak berubah,” tandasnya. (*)