Harmoni Tradisi dan Semangat Bangkit di Balik Panggung iForte NDC Yogyakarta

0
57
Penampilan Wu Light dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta. (zukhronnee muhammad)

Atrium Ambarukmo Plaza riuh oleh sorak sorai pada Sabtu, 11 Januari 2026. Di balik gemerlap lampu panggung iForte National Dance Competition (NDC) “Inspirasi Diri”, tersimpan kisah tentang keraguan yang dipatahkan, kreativitas tanpa batas, dan pembuktian diri generasi muda dalam merawat budaya.

Yogyakarta didapuk sebagai kota pembuka rangkaian kurasi offline ajang kompetisi tari tahun kedua ini. Dari total 710 pendaftar se-Indonesia, sebanyak 21 grup terpilih bertarung sengit di panggung Kota Gudeg.

Hasilnya, dua nama mencuat sebagai pemenang utama yang akan membawa panji daerah menuju Grand Final di Jakarta: “Wu Light” dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan “Semata” dari SMK Negeri 5 Denpasar.

Silvi Liswanda, Vice President Director & Deputy CEO iForte, mengungkapkan kekagumannya atas evolusi kreativitas peserta tahun ini.

“Generasi muda kita semakin kreatif membuat tradisi menjadi modern. Budaya Indonesia yang luar biasa indahnya ini dikemas dengan sangat modern, sehingga anak muda kembali semangat mencintai budayanya,” ujar Silvi di sela-sela acara.

Visi Silvi tersebut terjawab lunas oleh penampilan para juara. Lihat saja perjuangan tim Semata dari SMK Negeri 5 Denpasar.

Rela terbang jauh dari Bali, mereka sempat merasa cemas (insecure) karena membawa konsep “Etnik Modern” di tengah tren tari kontemporer yang mendominasi.

“Kami takut selera juri di luar Bali lebih ke kontemporer full atau teater. Tapi kami tetap pada identitas kami, memadukan tradisi Bali dengan elemen modern,” aku salah satu anggota tim Semata.

Keberanian mereka mempertahankan identitas justru mengantarkan mereka menjadi Juara 1 kategori pelajar.

Cerita emosional juga datang dari juara kategori Universitas, tim Wu Light (ISI Yogyakarta). Mereka membawakan interpretasi mendalam pada lagu wajib “Inspirasi Diri”, menggambarkan kegigihan anak muda untuk bangkit dari kegagalan.

Namun, penampilan kedua mereka—karya orisinal berjudul “Langkah”—menyimpan makna personal. Dimulai dengan gerakan pelan dan diakhiri dengan tempo cepat (beat kencang), tarian itu menjadi simbol bahwa langkah kecil bisa menjadi sesuatu yang besar.

Kemenangan ini mereka dedikasikan untuk satu anggota, Sinta, yang berhalangan hadir.

“Perjuangan kami sama dengan dia, mulai dari nol. Bahkan di panggung tadi rasanya kami tetap ditemani dia,” ujar Mutia Anindya perwakilan tim dengan haru.

Panggung Kolaborasi

Victor Sihombing, GM Marketing Communication iForte, menambahkan bahwa antusiasme di Yogyakarta sangat tinggi dengan lebih dari 50 pendaftar.

Tidak hanya soal kuantitas, kualitas penampilan, kostum, hingga pemilihan lagu mengalami peningkatan signifikan dibanding tahun sebelumnya.

Perhelatan ini juga mendapat apresiasi dari pihak Ambarukmo Plaza. Sebagai tuan rumah, mereka bangga dapat mengubah fungsi pusat belanja menjadi ruang budaya.

“Mall tidak hanya one-stop shopping, tapi tempat menyalurkan bakat dan melestarikan budaya,” ungkap Rina Febria Asisten GM Ambarukmo Plaza.

Para pemenang dari Yogyakarta ini nantinya akan kembali bersaing dengan perwakilan dari 12 regional lainnya pada babak Grand Final di Jakarta, bulan April mendatang. (*)