
Wajah Kota Jogja bakal semakin hijau dan berbudaya di tahun 2026 ini. pemkot Jogja melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bersiap membangun dua Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik baru.
Salah satu lokasi pembangunan menarik perhatian karena mengusung konsep sejarah yang dipadukan dengan solusi lingkungan modern.
RTH tersebut berlokasi di lahan milik Pemkot di Kampung Tegalgendu, RW 11 Prenggan, Kotagede.
Kepala Bidang RTH Publik DLH Kota Yogyakarta, Rina Aryati Nugraha, mengungkapkan bahwa pembangunan di lahan seluas 800 meter persegi ini akan mengusung konsep “Taman Mentaok”.
“Konsep RTH publik yang dibangun bisa menunjang kawasan Kotagede. Kita buat lebih modern tapi tetap ada unsur sejarah dan budaya, sehingga bisa untuk edukasi,” ujar Rina saat dikonfirmasi pada Sabtu, (10/1/2026).
Nantinya, vegetasi Pohon Mentaok akan mendominasi kawasan ini, mengingatkan warga bahwa kawasan Kotagede dulunya berawal dari hutan mentaok yang menjadi cikal bakal Mataram.
Tak hanya menawarkan romantisme sejarah, RTH Tegalgendu juga dirancang cerdas untuk mengatasi masalah sampah klasik di Yogyakarta.
DLH menyiasati keterbatasan lahan dengan inovasi teknis: menanam biopori memanjang tepat di bawah jalur pedestrian.
Inovasi ini memungkinkan RTH berfungsi ganda. Di atas sebagai area jalan kaki yang nyaman, di bawah tanah sebagai pengolah sampah organik kering seperti dedaunan.
“Ini kebutuhan prioritas untuk berkontribusi menyelesaikan permasalahan sampah. Agar persentase luasan RTH tidak berkurang, kita buat biopori di bawah pedestrian,” jelasnya.
Untuk tahap awal penataan ini, Pemkot menganggarkan dana APBD sekitar Rp 640 juta.
Selain di Tegalgendu, Pemkot juga akan membangun RTH seluas 1.700 meter persegi di Nitikan dengan anggaran Rp 1,65 miliar.
Lokasi ini diproyeksikan menjadi Taman Lalu Lintas baru yang menggantikan area di Terminal Giwangan.
Langkah ini menjadi bukti komitmen Pemkot Jogja untuk terus menambah RTH setiap tahun, menyediakan paru-paru bagi kota Jogja. (*)












