
Program taaruf offline atau biro jodoh nasional justru menjadi magnet utama dalam penutupan Shafiyah Expo 2025 di Jogja Expo Center (JEC), Minggu (29/6). Kegiatan yang digagas oleh Biro Jodoh Rumaysho itu menarik ratusan peserta dari seluruh Indonesia dan menegaskan kebutuhan ruang pertemuan jodoh yang aman, syar’i, dan terstruktur.
“Taaruf offline ini terbuka untuk umum, namun karena jumlah ikhwan jauh lebih sedikit dibanding akhwat, kami hanya bisa memproses sekitar 170 dari 500 pendaftar akhwat,” ujar Sabrina Lindy Anjani, Koordinator Taaruf Offline, saat ditemui di perhelatan Shafiyah Expo 2025 pada Minggu (29/6/2025) di Jogja Expo 2025.
“Proses pertemuan dilakukan melalui pertukaran CV yang sudah dikurasi oleh tim. Komunikasi antar peserta tetap dijembatani oleh perantara,” lanjutnya.
Peserta dikenai biaya Rp30.000 dan datang dari latar belakang yang beragam—PNS, swasta, guru, dokter, mahasiswa, bahkan yang belum bekerja. Usia peserta berkisar 17–70 tahun.
“Ada juga orang tua yang ingin mendaftarkan anaknya yang masih SMP, tapi karena belum punya KTP, belum bisa kami proses,” tambah Sabrina.
Biro Jodoh Rumaysho telah berdiri sejak 2017 dan kini bertransformasi secara digital dengan sistem daring berbasis website. Hingga kini, telah tercatat lebih dari 11.000 pendaftar dan sekitar 400 pasangan yang menikah melalui platform ini.
Sesi taaruf menjadi bagian dari rangkaian Shafiyah Journey 1.0, yang pada hari terakhirnya juga menyuguhkan berbagai kegiatan edukatif dan hiburan.
Dibuka dengan Cokelat Cooking Class bertema Kids Activity #PenuhCinta, anak-anak diajak berkreasi bersama keluarga.
Siang harinya, talkshow bertema “AI Optimization for UMKM” menghadirkan Titis Anggalih, praktisi digital marketing sejak 2010. Ia memaparkan strategi efisiensi kerja UMKM menggunakan teknologi kecerdasan buatan. “Dari sibuk jadi smart” menjadi tagline utama dalam sesi yang banyak diminati pelaku usaha lokal.
“Shafiyah Expo tahun ini tidak hanya soal transaksi, tapi juga edukasi aplikatif bagi UMKM dan generasi muda,” ujar Fikri Khairul Lisan, PIC Program Shafiyah Expo 2025.
Menjelang sore, Ustadz Musa mengisi kajian bertema “Kita satu atap, tapi tak satu jiwa. Kenapa?” yang mengajak pengunjung merenungi makna kebersamaan dan empati. Suasana semakin semarak dengan gim interaktif seperti Quizizz, Booth Explorer, hingga Keranjang Ajaib.
Sebagai penutup, pengunjung dimanjakan dengan Lelang Produk Non Sembako dan BIG SALE ALL TENANT—diskon besar-besaran dari seluruh tenant yang hadir selama expo berlangsung.
Ditutup pukul 21.00 WIB, Shafiyah Expo 2025 sukses menyatukan semangat spiritualitas, edukasi, dan ekonomi kreatif.
“Acara ini membuktikan bahwa ruang kolaborasi bernuansa syar’i dan kekinian masih sangat relevan bagi masyarakat Indonesia,” tandasnya.(*)













