Harga Mahal Keluar dari Geng, Dua Remaja Kritis Akibat Ritual Gladiator

0
27
Ilustrasi pendukung berita dibuat menggunakan Akal Imitasi.

Sebuah keinginan untuk keluar dari lingkaran geng berujung petaka bagi RA (17) dan AP (18). Alih-alih mendapatkan kembali masa depan yang normal, dua pelajar ini justru harus bertaruh nyawa di meja operasi setelah menjalani ritual “gladiator” di Jalan Ki Mangun Sarkoro, Pakualaman, Rabu (25/3/2026) dini hari.

Tragedi ini bermula saat RA dan rekannya berniat mengundurkan diri dari Geng “V”. Namun, “kode etik” kelompok tersebut melarang anggota pergi begitu saja.

Mereka dipaksa menjalani duel satu lawan satu atau istilah mereka “fix” sebagai syarat mutlak perpisahan.

Sekitar pukul 03.30 WIB, di depan SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta, janji maut itu pecah. Senjata tajam jenis celurit yang mereka bawa sendiri justru menjadi senjata makan tuan.

RA kini terbaring kritis di RS Bethesda dengan luka bacok di dada kiri yang menembus paru-parunya.

Sementara AP harus menjalani perawatan intensif di RSUD Wirosaban akibat luka bacok di pundak, lengan, dan jempol tangan yang terluka parah.

Kasi Humas Polresta Jogja, Ipda Anton Budi Susilo, menyesalkan kejadian yang melibatkan remaja ini. Menurutnya, ini adalah potret kelam dari loyalitas yang salah arah di kalangan pelajar.

“Ini bukan aksi kejahatan jalanan acak atau klitih. Mereka sudah saling kenal dan sepakat bertemu untuk duel (gladiator),” ujar Ipda Anton, saat dikonfirmasi Rabu siang.

“Sangat disayangkan, niat untuk berhenti dari kelompok justru diakhiri dengan cara yang tragis dan melanggar hukum,” lanjutnya.

Ironisnya, kasus ini terungkap setelah polisi curiga terhadap pasien yang awalnya dilaporkan sebagai korban kecelakaan di RS Pratama.

Setelah dicek oleh personel Polsek Umbulharjo, luka-luka di tubuh korban menunjukkan tanda-tanda kekerasan senjata tajam yang sangat fatal.

“Dua bilah celurit milik RA sudah kami sita sebagai barang bukti. Kasus ini telah dilimpahkan ke Polresta Jogja untuk pengusutan lebih lanjut, termasuk memburu pelaku lain yang terlibat dalam bentrokan tersebut,” tambah Ipda Anton.

Ia mengimbau keluarga untuk lebih peka terhadap lingkungan pergaulan anak agar nyawa tidak lagi menjadi taruhan demi sebuah eksistensi kelompok. (*)