
Rumah Sakit JIH Yogyakarta berkolaborasi dengan institusi kesehatan global asal Spanyol, SJD Barcelona Children’s Hospital, menggelar forum ilmiah nasional bertajuk JIH Medical Elevation 2026 di Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Selasa (23/6/2026).
Forum ini membahas perkembangan terkini serta penanganan klinis penyakit langka (rare disease) dan gangguan jantung pada pasien anak.
Executive Chief Officer RS JIH Yogyakarta, Bambang Pediantoro, mengatakan kolaborasi internasional tersebut merupakan langkah strategis rumah sakit dalam mendorong transfer pengetahuan sekaligus meningkatkan standar mutu layanan kesehatan.
“Penyelenggaraan JIH Medical Elevation 2026 merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Rumah Sakit JIH Yogyakarta untuk menghadirkan layanan kesehatan unggul melalui peningkatan kompetensi tenaga medis secara berkala,” ujar Bambang pada Selasa (23/6/2026).
Pada forum tersebut, Head of Pediatric Cardiology Service SJD Barcelona Children’s Hospital, Georgia Sarquella-Brugada, MD, PhD, memaparkan tantangan dalam mendeteksi dan menangani Sindrom Brugada (Brugada Syndrome) pada anak.
Penyakit ini merupakan gangguan sistem kelistrikan jantung akibat kelainan kanal natrium (sodium channelopathy) yang dapat menyebabkan kematian mendadak.
Menurut Sarquella-Brugada, salah satu metode deteksi dini yang sederhana dan relatif terjangkau adalah melakukan pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) saat anak mengalami demam. Peningkatan suhu tubuh dinilai dapat memunculkan (unmasking) pola Brugada yang sering kali tidak terlihat saat suhu tubuh normal.
Ia juga memaparkan studi kasus penanganan pasien anak berusia tiga tahun yang menderita Sindrom Brugada dan sempat mengalami disosiasi elektromekanis (electromechanical dissociation), yakni kondisi ketika aktivitas listrik jantung masih terekam, tetapi tidak diikuti kontraksi otot jantung.
Setelah penanganan darurat selama 25 menit menggunakan obat isoproterenol, tim medis berhasil memulihkan irama jantung pasien dan melanjutkan terapi dengan quinidine.
Sebagai penanganan jangka panjang, Sarquella-Brugada menjelaskan keberhasilan tindakan ablasi kateter (catheter ablation) pada lapisan luar jantung (epikardium) untuk menghilangkan sumber aritmia. Tindakan tersebut dilakukan setelah tim medis mengidentifikasi area epikardium yang menunjukkan fragmentasi elektrogram pemicu gangguan irama jantung.
Selain menghadirkan pakar dari Spanyol, forum yang diikuti ratusan dokter spesialis dan dokter umum itu juga menghadirkan sejumlah pembicara nasional, di antaranya dr. Octavia Lilyasari, Sp.JP(K) dari RSJPD Harapan Kita Jakarta dan dr. Erika Maharani, Sp.JP(K), Chairperson Indonesian Heart Rhythm Society (PERKI).
Melalui kolaborasi akademik lintas negara ini, para peserta diharapkan dapat memperluas wawasan serta mempercepat adopsi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi medis dalam praktik klinis di berbagai fasilitas kesehatan di Indonesia. (*)













