
Bayangkan sebuah tempat di mana tukang kayu, peniup kaca, penganyam hingga pemahat batu bekerja berdampingan. Mereka tidak hanya membuat produk, tetapi juga berbagi ide, saling menginspirasi, dan menciptakan karya yang sulit ditemukan di tempat lain.
Itulah Hamesha Studio—ruang kreatif yang lahir dari pertemuan antara desain Eropa dan keterampilan tangan pengrajin Indonesia.
Berbasis di Tempel, Sleman, Yogyakarta, Hamesha hadir dengan filosofi yang berbeda dari kebanyakan perusahaan. Di tengah dunia usaha yang kerap menekankan modal, strategi, dan keuntungan, studio ini justru menjadikan kindness (kebaikan) dan goodwill (niat baik) sebagai fondasi utama dalam membangun bisnis.
Pemilik Hamesha Studio, Zaira Bertels, meyakini bahwa kebaikan adalah kekuatan.
“Kebaikan sering dianggap sebagai kelemahan, tetapi saya percaya itu adalah kekuatan. Dengan memperlakukan orang dengan baik, hubungan yang terjalin akan kembali membawa hasil positif,” ungkapnya saat ditemui di Hamesha pada Sabtu (23/8/2025) di Tempel, Sleman, Yogyakarta.
Bersama sang suami, Gust Bertels, Zaira membangun Hamesha dari nol. Dalam kurun tiga tahun, studio ini berkembang pesat dengan membuka berbagai departemen baru: kerajinan kaca, keramik, anyaman, pandai besi, hingga kursi dan sofa.
Lebih dari sekadar bisnis, Hamesha membawa misi sosial—menciptakan lapangan kerja, membangun komunitas kreatif, dan menghadirkan ruang kolaborasi global.
“Kami sedang membangun Craftsman Village, sebuah desa pengrajin yang akan menjadi rumah bagi seniman dan desainer, baik lokal maupun internasional. Target kami adalah menjadikan Yogyakarta sebagai pusat kreativitas dunia,” tambah Zaira.
Ekosistem Kreatif yang Hidup
Alih-alih sekadar pabrik, Hamesha menghadirkan ekosistem unik di mana berbagai kerajinan hidup berdampingan. Ada dentang pandai besi, kilauan kaca hasil peniup kaca yang telah langka, hingga anyaman eceng gondok yang ditarik perlahan di atas alat tradisional.
Dari ruang kolaborasi inilah lahir karya-karya yang menyatukan material berbeda—meja dengan inlay kaca di atas kaki batu, kursi rotan dengan detail logam, atau bar front dari kayu dan anyaman semua dibuat dengan bahan alami dan konsep keberlanjutan.
Meski berakar pada tradisi, Hamesha menatap masa depan dengan penuh ambisi. Mereka tengah menyiapkan Hamesha Lifestyle Collection untuk diluncurkan internasional pada 2027, serta Hamesha.Design, platform desain berbasis AI yang memungkinkan kolaborasi digital antara arsitek, brand, hingga konsumen.
Menurut Zaira, integrasi teknologi dengan keterampilan tradisional akan membuka peluang baru sekaligus memperkuat daya saing Indonesia.
“Kami ingin menjadi pelopor manufaktur di Indonesia yang memadukan kreativitas dengan teknologi. Tujuan kami sederhana: menciptakan lebih banyak pekerjaan, membuka ruang belajar, dan menghadirkan produk yang memiliki nilai seni sekaligus inovasi,” ujarnya.
Ekspansi Global dari Yogyakarta
Untuk memperkuat ekspansi, Hamesha menargetkan pengembangan produksi dan membangun fasilitas penunjang seperti guest house, agar mitra internasional bisa merasakan langsung pengalaman tinggal di tengah komunitas pengrajin.
Dengan latar belakang dari dunia perhotelan, Zaira percaya pendekatan ini akan menambah nilai lebih. “Hospitality adalah bagian dari kami. Kami ingin semua orang yang datang bukan sekadar melihat produk, tetapi juga merasakan gaya hidup Hamesha,” tuturnya.
Di tangan pasangan Bertels, Hamesha menjadi lebih dari sekadar studio desain atau pabrik furnitur. Ia adalah gerakan yang menyatukan seni, teknologi, kebaikan, dan kolaborasi.
“Kami percaya Indonesia punya potensi besar. Dengan kekuatan kebaikan, kreativitas, dan kerja sama, kami siap menjadikan Hamesha sebagai pemimpin manufaktur kreatif,” tutup Zaira penuh keyakinan. (*)













