Museum, Generasi Z dan Teknologi: Dari Ruang Pamer ke Ruang Bermain

    0
    206
    Mini Seminar bertema “Museum X Gen Z: Dari Ruang Pamer ke Ruang Main” yang digelar di Gedung Panji Lantai 2, Museum Sonobudoyo Yogyakarta. (zukhronnee muhammad)

    Bagi Marsha Widodo, siswi Jakarta Intercultural School (JIS), museum bukan tempat yang membosankan, melainkan ruang bermain bagi rasa ingin tahu. Di tengah dominasi media digital yang serba cepat, ia mengajak generasinya memandang museum sebagai ruang hidup yang interaktif dan relevan dengan kehidupan masa kini.

    “Kita lahir di era video 15 detik. Saat menghadapi teks panjang atau penjelasan rumit di museum, banyak yang langsung merasa bosan. Padahal, museum bisa jadi ruang bermain yang mengasah rasa ingin tahu,” ujar Marsha di hadapan peserta Mini Seminar bertema “Museum X Gen Z: Dari Ruang Pamer ke Ruang Main” yang digelar di Gedung Panji Lantai 2, Museum Sonobudoyo Yogyakarta, Senin (13/10/2025),

    Ia menilai, suasana museum yang kaku sering membuat pengunjung muda merasa terintimidasi. “Ketika melihat artefak di balik kaca, kita merasa ada jarak antara diri kita dan sejarah itu sendiri. Museum seharusnya membuat kita ingin mendekat, bukan menjauh,” katanya.

    Menurut riset yang ia kutip, 50–70 persen remaja di negara Barat rutin mengunjungi museum, sementara di Australia angkanya mencapai 95 persen pada kelompok usia 15–17 tahun. Di Indonesia, meski 78 persen remaja pernah datang ke museum, sebagian besar hanya sekali setahun dan karena tugas sekolah.

    “Budaya museum di Indonesia belum tumbuh sebagai kebiasaan. Banyak yang datang karena disuruh, bukan karena ingin tahu,” ujar Marsha.

    Bagi Marsha, perubahan semacam ini penting agar museum menjadi bagian dari kehidupan generasi muda.

    “Museum bukan tempat kuno yang membosankan. Ini ruang kita untuk memahami siapa kita, dari mana kita berasal, dan ke mana kita akan pergi. Mengunjungi museum bukan sekadar mengenang masa lalu, tapi membangun masa depan,” tutupnya.

    Pandangan Marsha sejalan dengan langkah Museum Sonobudoyo Yogyakarta yang kini bertransformasi dengan dukungan teknologi modern. Kepala Museum Sonobudoyo, Ery Sustiyadi, menjelaskan bahwa pelestarian ribuan koleksi dilakukan secara menyeluruh melalui konservasi preventif, kuratif, hingga restorasi, dengan sistem digital berbasis Internet of Things (IoT).

    “Semua koleksi di ruang pamer, storage, dan laboratorium harus memenuhi standar suhu, kelembapan, serta intensitas cahaya tertentu. Sekarang kami sudah menggunakan sistem IoT, jadi kondisi ruangan bisa dipantau langsung melalui sistem digital,” ujar Ery.

    Ery menambahkan, metode anoksida digunakan untuk membasmi serangga tanpa bahan kimia, sementara keamanan koleksi diperkuat dengan RFID, sensor gerak, dan virtual border di ruang pamer. “Kami ingin museum aman tapi tetap nyaman dan interaktif bagi pengunjung,” katanya.

    Museum Sonobudoyo juga memanfaatkan teknologi video mapping, media interaktif, dan sensor suara untuk memperkaya pengalaman edukatif. “Di lantai lima dan enam, kami tampilkan animasi Serat Ajisaka dari naskah asli koleksi museum. Pengunjung bisa belajar sejarah sambil menikmati pertunjukan visual,” jelasnya.

    Sementara itu, Ignatia Nilu, kurator independen asal Yogyakarta, menilai bahwa museum masa kini harus menjadi ruang hidup dan partisipatif. “Museum seharusnya mampu menjembatani pengetahuan dengan masyarakat melalui cara yang menyenangkan. Anak-anak seharusnya tidak takut datang ke museum, tapi ingin berlama-lama di sana,” ujarnya.

    Nilu mengungkapkan bahwa beberapa pameran kini mulai menggabungkan unsur video art, light box, hingga scanography. “Institusi museum tidak boleh hanya menampilkan koleksi statis. Ia harus menjadi ruang bermain, ruang pengetahuan, dan ruang eksperimen,” katanya.(*)