Garis-Garis yang Hidup di Ruang Pamer ARTOTEL Suites Bianti

    0
    54
    Salah satu seniman menjelaskan salah satu karya yang dipamerkan dalam pameran “J+ Art Awards: Living Lines” di Artotel Suites Bianti, Yogyakarta. (zukhronnee muhammad)

    Di lobby Art Space ARTOTEL Suites Bianti, Jumat sore itu, ruang pamer tampak bergerak pelan. Bukan karena orang hilir mudik, melainkan cara tiga seniman menghidupkan gagasan mereka melalui warna, tekstur, dan cerita yang bertaut pada isu lingkungan.

    Pameran “J+ Art Awards: Living Lines”, yang berlangsung hingga 5 Februari 2026, membuka pengalaman baru bagi pengunjung untuk menelusuri hubungan manusia dengan alam melalui bahasa seni kontemporer.

    Suasana berubah lebih hangat ketika para seniman mulai duduk bersama pengunjung. Sesi tanya jawab yang awalnya santai menjelma menjadi ruang berbagi sudut pandang tentang banyak hal, pohon, spiritualitas, tubuh, dan tempat manusia dalam lanskap ekologis.

    Salah satu karya yang menyinggung kesan “organik” bergambar gelap. Komposisi itu mengingatkannya pada pohon pisang, kelapa, hingga anyaman bambu di halaman rumah.

    Uce Alamsyah Lubis atau Utje Lammo sang kreator, menjawab tanpa pretensi. Ia bercerita bahwa karyanya tumbuh dari lanskap kecil di sekitar studionya.

    Pendekatan realisme dan penggunaan perspektif rimba ia pilih untuk menampilkan ruang yang “meninggi”, berbeda dari perspektif Barat yang mengarah ke titik hilang. Pilihan itu lahir dari kebiasaan memerhatikan alam yang dekat.

    Dari situ, percakapan mengalir ke pengalaman Oetje Lammo berjudul The Mind of Attraction dan Fatamorfosa. Ia mengaku tak mengalami kesulitan teknis berarti, namun proses menemukan konsep memakan waktu panjang. Dua tahun ia mempelajari spiritualisme Hindu, Buddha, Kepercayaan, hingga Islam.

    “Spiritualisme itu sudah ada sebelum orang menyebut agama,” katanya.

    Pemahaman itu kemudian ia susutkan menjadi simbol-simbol visual yang berdiri sebagai kritik sekaligus renungan. Di sisi lain ruangan, Oceu Apristawijaya menghadirkan empat karya bertema ekologi, termasuk Tumblrearth. Karya itu memotret hubungan manusia dan alam yang kerap timpang.

    “Manusia bagian dari alam ini, tapi kadang merasa lebih di atas,” ujarnya sambil menyinggung banjir yang melanda Sumatra.

    Namun dari warna-warna terang yang muncul, Oceu tetap menyelipkan harapan. Ia juga membawa ambuler kecil berisi bibit tanaman yang boleh dibawa pulang. Bagi Oceu, kesadaran bisa tumbuh dari tindakan sesederhana itu.

    Warna-warna cerah dan detail lembut menyambut pengunjung di karya milik Becky Karina, Resting Where Imagination Blooms. Becky mengajak pengunjung melihat daun dan bunga seperti melalui “mikroskop imajinasi”.

    Dari situ lahir dunia kecil dengan gradasi halus, gerak tokoh yang pelan, dan keseimbangan visual yang menurutnya menenangkan. Karya itu menjadi kontras yang lembut di antara tafsir ekologis dan spiritual yang lebih pekat.

    Sebelum sesi diskusi berakhir, Uce kembali menyinggung karyanya yang bertema spiritualisme dan Fatamorgana. Warna emas dan putih ia gunakan untuk menandai energi, religiositas, sekaligus pertemuan manusia dengan alam.

    “Tidak ada yang benar-benar pasti. Semua berubah. Tugas kita mengolahnya menjadi pemahaman,” ucapnya.

    Ketika waktu habis, Art Space itu menyisakan kesan sederhana: bahwa setiap lukisan bukan hanya objek visual, melainkan cara para seniman membaca dunia—dari daun hingga rimba, dari tubuh hingga keyakinan, dari kegelisahan ekologis hingga harapan-harapan yang mereka sisipkan di antara garis-garis yang hidup. (*)