Tepuk tangan bergema di dalam ruangan saat ratusan siswa berseragam rapi itu mengangkat tangan kanan mereka. Satu per satu kalimat sumpah diucapkan dengan khidmat. Sebagian tampak tegang, sebagian lain menahan haru.
Bagi 687 siswa SMK Kesehatan dari berbagai penjuru Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Senin (11/5/2026) bukan sekadar hari kelulusan. Hari itu menjadi penanda dimulainya babak baru: memasuki dunia kesehatan sebagai tenaga penunjang yang siap mengabdi.
Mereka datang dari 19 SMK Kesehatan se-DIY. Ada yang menempuh pendidikan sebagai tenaga penunjang keperawatan, kefarmasian, laboratorium medik, hingga perawat sosial. Namun pagi itu, mereka dipersatukan oleh satu hal yang sama yaitu janji untuk menjalankan profesi dengan tanggung jawab dan nilai kemanusiaan.
Koordinator MKKS Bidang Kesehatan DIY, apt. S.Ch Ari Widiastuti, S.Si., M.Farm, menyebut prosesi ini bukan hanya seremoni rutin tahunan.
“Sumpah bersama ini bukan sekadar seremonial, tetapi menjadi awal pengabdian para tenaga penunjang kesehatan untuk bekerja secara profesional, humanis, dan bertanggung jawab di tengah masyarakat,” ujarnya di sela kegiatan pada Senin (11/5/2026).
Di dunia pendidikan vokasi kesehatan, pengambilan sumpah memang memiliki makna yang berbeda. Jika siswa bidang lain cukup diantar dengan wisuda atau pelepasan, lulusan SMK kesehatan melangkah lebih jauh, mereka harus mengikat diri dengan janji profesi sebelum benar-benar terjun ke lapangan.
Makna itu pula yang ditekankan Wakil Ketua DPP Patkesindo, dr. H. Rifky Fadilah, M.M, saat berdiri di hadapan para peserta. Ia mengingatkan perjalanan panjang yang telah mereka tempuh.
“Hari ini kalian resmi menjadi Asisten Tenaga Kesehatan. Kalian telah melewati proses panjang; belajar, praktik, ujian, bahkan air mata. Semua perjuangan itu hari ini terbayar dengan kebanggaan,” kata dia.
Rifky juga menanamkan rasa percaya diri kepada para lulusan muda itu. Menurutnya, menjadi lulusan SMK bukan alasan untuk merasa kecil.
“Jangan pernah merasa rendah diri hanya karena kalian lulusan SMK. Tunjukkan bahwa lulusan SMK Kesehatan adalah pribadi yang terampil, disiplin, tangguh, dan siap bekerja,” tegasnya.
Pesan itu terasa relevan. Dunia kesehatan terus berubah, berkembang cepat dengan teknologi baru, tantangan baru, dan kebutuhan layanan yang semakin kompleks. Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan DIY pun mengingatkan pentingnya terus belajar.
“Teruslah meningkatkan kompetensi dan memperbarui ilmu pengetahuan, karena dunia kesehatan berkembang sangat dinamis dan membutuhkan tenaga yang adaptif serta profesional,” tandasnya.
Bagi para peserta, hari itu bukan akhir perjalanan pendidikan, melainkan pintu masuk menuju dunia nyata—rumah sakit, klinik, apotek, laboratorium, hingga pelayanan kesehatan masyarakat.
Mereka akan bertemu pasien, keluarga pasien, dan berbagai situasi yang menuntut bukan hanya keterampilan teknis, tetapi juga empati. (*)














