BMKG Jelaskan Fenomena “Di Jogja Beda Perempatan Beda Cuaca”

0
95
Perempatan tugu Jogja disunting menggunakan kecerdasan buatan. (zukhronnee muhammad)

Fenomena cuaca ekstrem di mana hujan deras mengguyur satu titik sementara wilayah di dekatnya justru panas terik, memunculkan istilah populer di kalangan warga Jogja: “Jogja beda perempatan, beda cuaca”.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Jogja memberikan penjelasan ilmiah terkait anomali distribusi hujan tersebut.

Forecaster BMKG Stasiun Meteorologi Jogja, Rahmad Tauladani, saat dikonfirmasi pada Sabtu (20/12/2025), menjelaskan bahwa istilah tersebut secara ilmiah berkaitan erat dengan karakter hujan lokal dan dinamika atmosfer dalam skala kecil. Fenomena ini kerap terjadi saat memasuki masa peralihan musim.

“Istilah ini menggambarkan kondisi cuaca yang tampak tidak merata dalam satu wilayah. Hal ini berkaitan dengan karakter hujan lokal serta dinamika atmosfer dalam skala kecil,” ujar Rahmad.

Rahmad memaparkan bahwa posisi geografis Indonesia yang diapit dua benua (Asia dan Australia) serta dua samudera (Hindia dan Pasifik) menciptakan sistem monsun yang unik.

Kondisi ini menyebabkan dampak cuaca yang sangat variatif di setiap daerah, termasuk di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Lebih lanjut, Rahmad menjelaskan bahwa saat ini DIY berada dalam fase pancaroba. Karakteristik utama fase ini adalah perubahan cuaca yang berlangsung cepat.

“Pada pagi hingga siang hari kondisi cuaca biasanya cukup panas, kemudian pada sore hari akan terjadi hujan yang dapat disertai fenomena lain seperti puting beliung, hujan es, dan sebagainya, namun kondisi ini berlangsung dengan cepat,” tambahnya.

Pihaknya menilai istilah “beda perempatan beda cuaca” sebagai bentuk kreativitas dan kearifan lokal warga dalam memahami fenomena meteorologis yang mereka hadapi sehari-hari.

BMKG juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang mungkin terjadi menjelang libur Natal dan Tahun Baru. (*)