
Tak ada panggung megah atau pesta kembang api terpusat yang digelar Pemerintah Kota Jogja pada malam pergantian tahun 2026 nanti. Alih-alih mengundang kerumunan massal di satu titik, Pemkot memilih strategi yang lebih estetik dan humanis: mempercantik wajah kota dan menyuguhkan musik jalanan yang berkelas.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Jogja, Wahyu Hendratmoko, menyebut langkah ini diambil agar momen libur Nataru menjadi promosi yang manis bagi pariwisata Jogja, bukan sebaliknya. Pihaknya mengusung konsep City Beautification di kawasan Sumbu Filosofis dan Jalan Suroto.
“Kami memaksa diri harus membuat ornamen yang ganteng di siang hari dan cantik di malam hari. Istilahnya siang ganteng, malam cantik,” ujar Wahyu dengan nada santai kepada awak media beberapa waktu lalu.
Di koridor Jalan Suroto, ornamen Natal sudah mulai menyapa pejalan kaki. Sementara di kawasan Sumbu Filosofis, ada enam titik ornamen tahun baru yang siap jadi latar foto instagramable.
Wahyu menyebut, wisatawan kini tak perlu bingung mencari spot foto karena trotoar Jogja sudah disulap jadi lebih artistik.
Tak hanya soal visual, suasana malam di sepanjang Malioboro hingga Marga Utama (Mangkubumi) bakal lebih hidup.
Wahyu memastikan, para “pengamen” yang tampil nanti bukan sembarangan. Mereka adalah musisi jalanan yang telah lolos kurasi ketat dari Dinas Kebudayaan.
“Kami optimalkan teman-teman musisi jalanan di tujuh titik setiap harinya. Jadi wisatawan bisa melepas penat, menunggu kerabat belanja, sambil menikmati sajian musik yang berkualitas,” tambahnya.
Strategi ini juga memberi ruang napas bagi industri perhotelan dan restoran. Pemkot Jogja sengaja tak membuat event tandingan, membiarkan pihak swasta menggelar acara masing-masing agar ekonomi pariwisata merata di seluruh penjuru Jogja. (*)













