
Pelemahan nilai tukar rupiah hingga kenaikan harga BBM nonsubsidi mulai mengancam sejumlah proyek strategis Pemerintah Daerah (Pemda) DIY.
Salah satu proyek yang berpotensi terdampak adalah pembangunan ruang terbuka hijau (RTH) di kawasan eks Tempat Khusus Parkir (TKP) Abu Bakar Ali (ABA) Malioboro yang menjadi bagian dari penataan kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta.
Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, mengungkapkan lonjakan harga material impor dan biaya logistik telah memicu kekhawatiran di kalangan kontraktor.
Sejumlah pihak ketiga bahkan mulai menyampaikan surat kepada Pemda terkait potensi gangguan pelaksanaan proyek akibat kenaikan biaya konstruksi.
“Beberapa bahan baku masih impor sehingga nilainya ikut melonjak. Jika masalah ini tidak ditangani secepatnya, ketidaksesuaian target bisa dipersoalkan dalam audit BPK dan menjadi temuan,” kata Made di Kompleks Kepatihan, Senin (8/6/2026).
Menurutnya, dampak kenaikan harga tidak hanya mengancam anggaran, tetapi juga target fisik pembangunan. Proyek jalan yang semula direncanakan sepanjang 5 kilometer, misalnya, berpotensi hanya terealisasi 2,5 hingga 3 kilometer apabila harga material terus meroket.
Pemda DIY kini memetakan proyek-proyek yang rentan terdampak, termasuk pembangunan RTH eks ABA yang direncanakan mulai dikerjakan tahun ini. Pemerintah menegaskan kualitas pekerjaan tidak boleh dikurangi meski tekanan biaya semakin besar.
“Yang tidak mungkin adalah menurunkan kualitas pekerjaan karena nanti akan menjadi temuan. Kalau target fisiknya dikurangi harus ada dasar kebijakannya,” tegas Made.
Kepala Dinas PUP-ESDM DIY Anna Rina Herbranti menyebut tekanan biaya telah terjadi hampir di seluruh sektor konstruksi.
Data dinas menunjukkan kenaikan harga mata pekerjaan jalan dan jembatan mencapai 10 hingga lebih dari 80 persen dibanding kontrak awal.
Pada proyek PSU, kenaikannya berkisar 10–43 persen, sementara sejumlah bahan kimia laboratorium mengalami lonjakan hingga 200 persen. (*)













