Kolaborasi PSS Sleman dan Rianty Batik Angkat Identitas Lokal

0
15
Para pemain PSS Sleman yang memperkenalkan batik khas PSS besutan Rianty Batik Yogyakarta. (zukhronnee muhammad)

Aroma kopi bercampur riuh obrolan memenuhi sudut Homs Gelato, Coffee & Eatery, Kamis (7/5/2026). Namun siang itu, perhatian pengunjung bukan hanya tertuju pada sajian di meja, melainkan pada para pemain PSS Sleman yang hadir langsung menyapa suporter dalam acara Meet & Greet eksklusif.

Momen tersebut sekaligus menjadi penanda peluncuran resmi koleksi kolaborasi antara Rianty Batik dan PSS Sleman. Sebuah pertemuan antara sepak bola dan fesyen lokal yang lahir dari kesamaan identitas: sama-sama tumbuh dari Yogyakarta.

Bagi CEO Rianty Batik, Aditya Suryadinata, kolaborasi ini bukan sekadar urusan bisnis atau tren industri kreatif. Ada faktor emosional yang membuat pihaknya mantap menggandeng klub berjuluk Super Elang Jawa tersebut.

“PSS itu salah satu klub sepak bola di Indonesia yang suporternya sangat luar biasa. Itu jadi salah satu faktor kami ingin berkolaborasi dengan PSS. Selain itu, kami sama-sama berasal dari DIY, jadi ada semangat untuk saling mendukung,” ujar Aditya.

Ketertarikan itu bahkan telah tumbuh sejak musim lalu, ketika PSS masih berjuang di Liga 2. Di tengah situasi yang belum ideal, Rianty Batik justru memilih hadir sebagai bagian dari dukungan moral bagi klub kebanggaan Sleman tersebut.
Menurut Aditya, pihaknya ingin ikut membersamai perjalanan PSS untuk kembali ke kasta tertinggi sepak bola nasional.

“Kami punya kerinduan untuk sama-sama berjuang mengembalikan PSS ke Super League. Alhamdulillah tahun ini PSS bisa juara dan musim depan kembali ke Super League,” katanya.

Keseriusan kolaborasi itu terlihat dari proses pengembangan desain yang tidak dibuat secara instan. Tim Rianty Batik membutuhkan waktu hampir lima bulan untuk memahami karakter PSS, mulai dari kultur suporternya hingga identitas visual yang melekat pada klub.

Mereka mengamati bagaimana fanatisme suporter terbentuk, bagaimana warna dan simbol klub diterima publik, hingga bagaimana koleksi tersebut bisa terasa “PSS banget”.

“Karena ini pertama kali kami men-support PSS, kami benar-benar mendalami karakter klub dan suporternya. Jadi proses desainnya cukup panjang,” ungkap Aditya.

Respons publik pun melampaui ekspektasi. Antusiasme suporter terlihat sejak penjualan tiket bundling yang sempat viral karena memicu antrean panjang di toko Rianty Batik.

Menurut Aditya, program tersebut awalnya hanya ditujukan sebagai bentuk apresiasi sederhana kepada komunitas suporter. Namun respons masyarakat ternyata jauh lebih besar dari perkiraan.

Di tengah antusiasme itu, pemain PSS, Kevin Gomes, mengaku senang bisa terlibat langsung dalam acara tersebut. Mengenakan batik hasil kolaborasi, Kevin menyebut kerja sama antara klub sepak bola dan brand batik lokal masih tergolong jarang terjadi di Indonesia.

“Sangat bagus ya. Saya rasa ini jarang terjadi juga kerja sama dengan sepak bola,” ujar Kevin singkat.

Lebih dari sekadar peluncuran produk, acara itu juga memperlihatkan kedekatan emosional antara pemain dan suporter PSS. Kevin menilai karakter pendukung Sleman yang dikenal kritis dan militan justru menjadi energi positif bagi tim.

“Mereka cinta sama timnya. Dalam kondisi susah pun mereka selalu datang dan selalu mendukung kami. Itu jadi hal yang sangat positif buat pemain,” katanya.

Acara yang dihadiri 10 pembeli beruntung dari sesi pre-order tersebut kemudian ditutup dengan sesi foto bersama dan tanya jawab santai. (*)