Ubah Kerinduan pada Ibu Menjadi Doa, Grego Julius Luncurkan Album Rohani

0
25
Grego Julius didampingi Elisha Orcarus saat memberikan keterangan kepada wartawan. (zukhronnee muhammad)

Malam di Grha Bung Karno, Klaten Tengah, Rabu (6/5/2026), terasa berbeda. Ribuan jemaat memenuhi ruangan, larut dalam lantunan orkestra dan doa yang berpadu dalam konser bertajuk “Magnificat Jiwa: Simfoni Kasih Bagi Bunda Maria.”

Sekitar 2.400 jemaat hadir menyaksikan peluncuran Album Lagu Rohani Bunda Maria Volume 10 karya komposer rohani Grego Julius. Di usia 70 tahun, Grego kembali menghadirkan karya yang tidak hanya menjadi pertunjukan musik, tetapi juga ruang kontemplasi tentang kehilangan, iman, dan kasih seorang ibu.

Di balik megahnya aransemen orkestra malam itu, tersimpan kisah personal yang menjadi sumber utama lahirnya album tersebut. Grego mengaku kehilangan sosok ibu kandung membuatnya mencari tempat baru untuk bersandar secara batin.

“Jujur, saat ibu saya masih ada, beliau adalah tempat saya berkeluh kesah, baik saat gembira maupun kecewa. Setelah beliau tiada, saya merasa kehilangan sosok sandaran,” ungkap Grego kepada wartawan sebelum memulai perhelatan pada Rabu (6/5/2026).

Rasa kehilangan itu perlahan membawanya semakin dekat kepada Bunda Maria. Dari sana, lagu-lagu yang ia tulis menjadi bentuk doa sekaligus cara merawat kerinduan.

“Saya mencoba bersandar pada Bunda Maria, dan ternyata hati saya lega. Seolah-olah saya menemukan sosok ibu lagi di sana. Itulah yang menginspirasi saya untuk terus melahirkan lagu sebagai sarana doa,” lanjutnya.

Album volume ke-10 ini berisi 12 lagu bertema Bunda Maria. Grego menyebut seluruh lagu lahir dari pengalaman batin yang nyata, mulai dari rasa kecewa, kesedihan, hingga kebahagiaan.

Proses kreatifnya memakan waktu sekitar satu tahun, sementara persiapan konser dilakukan selama tiga bulan bersama tim orkestra.

“Lagu-lagu ini tidak asal ditulis. Ada pengalaman di hati saya; ada saat saya kecewa, susah, hingga gembira. Semuanya tertuang di sana. Payungnya tetap satu: doa,” jelas Grego.

Pemilihan Klaten sebagai lokasi konser juga menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan karya Grego di luar Yogyakarta. Grego sebelumnya sukses menggelar konser serupa di Yogyakarta, Grego berencana membawa “Simfoni Kasih” ke kota lain seperti Solo dan Semarang.

Saat ini, seluruh lagu dalam Album Lagu Rohani Bunda Maria Volume 10 telah tersedia di berbagai platform musik digital seperti YouTube, Spotify, dan Apple Music.

“Harapan saya, lagu-lagu ini bukan hanya sekadar koleksi musik, tapi menjadi sarana bagi umat untuk bersyukur, berterima kasih, dan terinspirasi sehingga doa-doa mereka bisa lebih meresap di hati,” pungkas Grego.

Konser malam itu juga menghadirkan kolaborasi lintas warna musik melalui keterlibatan sinden Elisha Orcarus. Dikenal dengan cengkok Jawa tradisional, Elisha tampil menyatu bersama Grego Julius Orchestra dalam nuansa simfoni modern.

Elisha mengaku terkesan dengan proses produksi yang berlangsung cepat, namun tetap menghasilkan kualitas musik yang matang.

“Begitu diberi teks dan notasi, saya langsung diminta membaca dan rekaman. Prosesnya sangat cepat, tapi hasilnya luar biasa keren. Musiknya tetap terasa asyik dan chill,” ujarnya.

Bagi Elisha, keterlibatan dalam album tersebut terasa personal karena dirinya juga memiliki kedekatan spiritual dengan sosok Bunda Maria.

Konser itu tidak hanya dirancang sebagai pertunjukan musik, tetapi juga dikemas dalam format doa rosario.

Romo Yoseph Kristanto, Pr dari Paroki Maria Asumpta Klaten menjelaskan, setiap lagu ditempatkan di sela-sela doa Salam Maria sehingga jemaat dapat mengikuti alur meditasi melalui musik.

“Kami merancang agar pementasan ini bertepatan dengan awal Bulan Maria. Hal yang mengagumkan bagi saya adalah di usia Pak Grego yang ke-70 tahun, beliau tetap produktif menghasilkan karya filosofis, terutama di malam-malam yang tenang saat ide-ide keluar,” tutup Romo Yoseph. (*)