
Keluhan wisatawan mengenai harga kuliner di kawasan Malioboro kembali viral, memicu perdebatan tentang relevansi citra “Jogja Murah” di tengah realitas ekonomi kawasan wisata premium.
Sebuah video yang diunggah akun Instagram @yogyakarta.keras memperlihatkan kekecewaan pembeli yang harus membayar Rp 85 ribu untuk tiga porsi nasi gudeg telur lengkap dengan teh manis.
“Gaes, hati-hati kalau mau makan di depan Malioboro Jogja. Harganya mahal banget,” tulis perekam video, yang menyorot sebuah gang di sekitar Malioboro tanpa memperlihatkan nama warung secara jelas.
Jika dikalkulasikan, harga per paket (makan dan minum) jatuh di kisaran Rp 28.300. Angka ini dinilai sebagian pihak wajar untuk tahun 2026, namun tetap dianggap “mahal” bagi wisatawan yang memegang teguh stereotip harga murah Yogyakarta.
Menanggapi fenomena ini, Kepala UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya Kota Yogyakarta, Fitria Dyah Anggraini, Jumat (2/1/2026), menilai harga tersebut sebenarnya masuk akal.
Ia menyoroti bahwa akar masalahnya sering kali bukan pada nominal harga, melainkan pada ekspektasi wisatawan yang tidak selaras dengan lokasi wisata.
“Kayaknya itu normal nggak sih. Tapi ya memang mungkin beda-beda ya. Kalau dia ke gudeg yang terkenal kan bisa lebih syok lagi tuh harganya,” paparnya.
Fitria memahami bahwa branding Yogyakarta sebagai kota ramah kantong sering kali menjadi bumerang ketika wisatawan mendapati harga yang berlaku di pusat keramaian.
“Mungkin kan secara harapannya mereka mendapatkan Jogja image murah,” ujarnya.
Meski demikian, Fitria menegaskan bahwa UPT tidak memiliki wewenang untuk mengintervensi harga jual pedagang.
“Kami di UPT tidak berada dalam ranah untuk bisa mengontrol harga,” jelasnya.
Sebagai solusi penengah antara ekspektasi dan realitas, pihaknya terus berkolaborasi dengan Dinas Pariwisata untuk mendorong transparansi.
Ia memastikan, di zona relokasi resmi seperti Teras Malioboro, potensi “jebakan harga” diminimalisir lewat aturan ketat.
“Di Teras Malioboro itu selalu terkontrol. Harga dicantumkan dan diawasi oleh pengelola serta teman-teman pariwisata,” tandasnya. (*)













