Di tengah bayang-bayang kenaikan harga avtur dan memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah, kabar keberangkatan 492 calon jemaah haji khusus pada 18 Mei 2026 justru membawa ketenangan.
Tidak ada biaya tambahan. Bagi para jemaah yang telah melunasi kewajibannya, perjalanan spiritual ini tetap berjalan sesuai rencana, tanpa beban baru.
Di Yogyakarta, suasana persiapan terasa hangat. Ratusan jemaah dari berbagai daerah berkumpul, membawa harapan yang sama: menunaikan rukun Islam kelima dengan khusyuk.
Mereka datang dari Jakarta, Yogyakarta, Solo, hingga Semarang. Usia mereka beragam—dari 13 tahun hingga 81 tahun—namun tujuan mereka satu.
General Manager Marketing Sahid Tour, Teguh Budi Santosa, menyebut keputusan tidak menarik biaya tambahan merupakan bentuk komitmen penyelenggara.
“Terkait kenaikan harga avtur dan konflik global, alhamdulillah kita tidak meminta tambahan ongkos kepada jamaah yang sudah terdaftar dan telah jatuh tempo untuk lunas,” ujarnya kepada wartawan pada Rabu (29/4/2026).
“Pembayaran sudah kita selesaikan sebelum terjadinya konflik di Timur Tengah. Kalau ada imbasnya, itu jadi konsekuensi kami, insyaallah kita tidak akan meminta tambahan,” imbuhnya.
Sejak 2022, biaya haji khusus relatif stabil. Paket A dipatok USD 16.900 dan Paket B USD 13.300. Penyesuaian pada Paket B dari sebelumnya USD 12.300 disebut bukan karena tekanan ekonomi global, melainkan peningkatan fasilitas hotel demi kenyamanan jemaah.
Namun, bukan hanya soal biaya yang menjadi perhatian. Strategi keberangkatan pun dirancang berbeda. Tahun ini, jemaah diberangkatkan dengan skema program akhir—mendekati puncak ibadah haji, yakni Wukuf di Arafah. Pilihan ini bukan tanpa alasan.
“Harapannya meskipun program akhir, saat Wukuf kondisi jamaah tetap segar dan sehat. Itu puncak haji, setelah itu baru menjalankan sunnah-sunnah lainnya,” jelas Teguh.
Di balik strategi itu, ada kesiapan panjang yang telah dijalani para jemaah. Sebagian besar telah menunggu 5 hingga 6 tahun sejak mendaftar pada 2018–2019.
Namun dinamika terjadi. Sekitar 20–25 persen jemaah memilih menunda keberangkatan tahun ini, mayoritas karena belum siap secara finansial saat pelunasan.
Kondisi ini justru membuka peluang bagi pendaftar yang lebih baru. Bahkan, ada jemaah yang baru mendaftar pada 2022 kini bisa berangkat lebih cepat, mengisi kuota yang kosong.
Perwakilan manajemen, Awal, menyebut fenomena ini menjadi catatan penting.
“Tahun-tahun ke depan, kami mengedukasi calon jamaah untuk mempersiapkan finansial sejak awal, termasuk melalui tabungan dan investasi emas bekerja sama dengan perbankan,” kata Teguh menambahkan.
Di sisi lain, tantangan alam juga tak bisa diabaikan. Suhu di Tanah Suci diperkirakan mencapai 39–40 derajat Celsius. Risiko heatstroke menjadi perhatian serius. Berbagai sosialisasi telah dilakukan, baik secara daring maupun tatap muka, menekankan pentingnya disiplin menjaga hidrasi.
Untuk memastikan keselamatan, 492 jemaah ini akan didampingi 24 petugas dari Indonesia, termasuk enam dokter. Setibanya di Arab Saudi, mereka akan dibantu sekitar 30 tenaga lokal dari kalangan mahasiswa Indonesia.
Mobilitas selama di sana difasilitasi 13 unit bus, masing-masing dikawal petugas dan tenaga medis.
Sebagai tahap akhir, seluruh jemaah menjalani manasik terpusat di Sahid Raya Yogyakarta selama empat hari tiga malam, mulai 30 April hingga 3 Mei 2026.
Di sini, mereka tidak hanya menerima materi ibadah sesuai sunnah, tetapi juga menjalani simulasi praktik untuk menguatkan kesiapan fisik dan mental.
Ketua Panitia Manasik, Miranti, menekankan pentingnya fase ini sebagai bekal terakhir sebelum keberangkatan. (*)














