Tim Peneliti UPN Veteran Yogyakarta Gagas Komunikasi Hati Digital, Bullying Siswa Turun 18 Persen

0
189
Tim Peneliti UPN Veteran Yogyakarta Gagas Komunikasi Hati Digital, Bullying Siswa Turun 18 Persen Menjawab maraknya kasus cyberbullying di kalangan pelajar, tim peneliti Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta yang dipimpin Prof. Dr. Puji Lestari, M.Si., mengembangkan solusi berbasis teknologi bertajuk komunikasi hati digital. Melalui platform www.sikomhati.id, tim ini mendorong model literasi digital yang lebih empatik dan menyentuh aspek emosional siswa. Platform ini telah diuji coba di SMA Gama Yogyakarta dan menunjukkan hasil menjanjikan. “Terjadi penurunan tindakan cyberbullying oleh siswa sebesar 18 persen,” ungkap Prof. Puji Lestari dalam Focus Group Discussion (FGD) di Balai Tekkomdik DIY, Selasa (5/8/2025). Menurut Puji, konsep komunikasi hati adalah pendekatan untuk mengelola pikiran dan perasaan negatif seperti iri, benci, hingga dendam menjadi energi positif. “Bagaimana komunikasi dilakukan dengan tetap mengedepankan simpati dan empati. Jika ini bisa dibumikan ke kalangan pelajar, dampaknya luar biasa,” ujarnya. FGD ini turut dihadiri Kepala Balai Tekkomdik DIY, Rudy Prakanto, S.Pd., M.Eng., serta perwakilan kepala sekolah dan guru Bimbingan Konseling (BK) dari sekolah anggota Jogja Smart School (JSS). Rudy menyampaikan kekhawatirannya atas tingginya kasus bullying yang berdampak pada kondisi mental siswa. “Ada survei yang menunjukkan bahwa satu dari 20 anak mengalami gangguan kejiwaan dan bullying menjadi salah satu penyebab utamanya. Ini sangat memprihatinkan. Kami berharap inovasi dari Prof. Puji dan tim bisa berdampak nyata bagi literasi digital yang humanis,” kata Rudy. Penelitian ini diawali dengan survei pada 30 SMA/SMK di DIY yang tergabung dalam JSS, guna memetakan kebutuhan penerapan literasi digital berbasis komunikasi hati. Penelitian ini sendiri merupakan hibah dana terapan DRTPM tahun 2025. Dalam FGD mengemuka bahwa kasus perundungan di sekolah sering kali terjadi, baik secara verbal maupun non-verbal, dengan pemicu beragam. Guru SMKN 1 Yogyakarta, Sri Winarsih, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa tantangan literasi digital saat ini juga mencakup kesepahaman tentang definisi bullying. “Seringkali tindakan guru yang mendidik atau menegur siswa disalahartikan sebagai tindakan bullying. Ini perlu diluruskan,” ujarnya. Respon dari peserta FGD menunjukkan bahwa pendekatan komunikasi hati dinilai relevan dan dibutuhkan pelajar di era digital. Di akhir diskusi, perwakilan sekolah yang hadir sepakat untuk mulai menerapkan platform sikomhati.id sebagai bagian dari upaya pengurangan bullying dan penguatan literasi digital empatik di lingkungan sekolah. CAPTION Prof. Puji Lestari dan Tim saat Focus Group Discussion (FGD) di Balai Tekkomdik DIY. (Istimewa)

Menjawab maraknya kasus cyberbullying di kalangan pelajar, tim peneliti Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta yang dipimpin Prof. Dr. Puji Lestari, M.Si., mengembangkan solusi berbasis teknologi bertajuk komunikasi hati digital. 

Melalui platform www.sikomhati.id, tim ini mendorong model literasi digital yang lebih empatik dan menyentuh aspek emosional siswa.

Platform ini telah diuji coba di SMA Gama Yogyakarta dan menunjukkan hasil menjanjikan. 

“Terjadi penurunan tindakan cyberbullying oleh siswa sebesar 18 persen,” ungkap Prof. Puji Lestari dalam Focus Group Discussion (FGD) di Balai Tekkomdik DIY, Selasa (5/8/2025).

Menurut Puji, konsep komunikasi hati adalah pendekatan untuk mengelola pikiran dan perasaan negatif seperti iri, benci, hingga dendam menjadi energi positif. 

“Bagaimana komunikasi dilakukan dengan tetap mengedepankan simpati dan empati. Jika ini bisa dibumikan ke kalangan pelajar, dampaknya luar biasa,” ujarnya.

FGD ini turut dihadiri Kepala Balai Tekkomdik DIY, Rudy Prakanto, S.Pd., M.Eng., serta perwakilan kepala sekolah dan guru Bimbingan Konseling (BK) dari sekolah anggota Jogja Smart School (JSS). 

Rudy menyampaikan kekhawatirannya atas tingginya kasus bullying yang berdampak pada kondisi mental siswa.

“Ada survei yang menunjukkan bahwa satu dari 20 anak mengalami gangguan kejiwaan dan bullying menjadi salah satu penyebab utamanya. Ini sangat memprihatinkan. Kami berharap inovasi dari Prof. Puji dan tim bisa berdampak nyata bagi literasi digital yang humanis,” kata Rudy.

Penelitian ini diawali dengan survei pada 30 SMA/SMK di DIY yang tergabung dalam JSS, guna memetakan kebutuhan penerapan literasi digital berbasis komunikasi hati. Penelitian ini sendiri merupakan hibah dana terapan DRTPM tahun 2025.

Dalam FGD mengemuka bahwa kasus perundungan di sekolah sering kali terjadi, baik secara verbal maupun non-verbal, dengan pemicu beragam. 

Guru SMKN 1 Yogyakarta, Sri Winarsih, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa tantangan literasi digital saat ini juga mencakup kesepahaman tentang definisi bullying.

“Seringkali tindakan guru yang mendidik atau menegur siswa disalahartikan sebagai tindakan bullying. Ini perlu diluruskan,” ujarnya.

Respon dari peserta FGD menunjukkan bahwa pendekatan komunikasi hati dinilai relevan dan dibutuhkan pelajar di era digital. 

Di akhir diskusi, perwakilan sekolah yang hadir sepakat untuk mulai menerapkan platform sikomhati.id sebagai bagian dari upaya pengurangan bullying dan penguatan literasi digital empatik di lingkungan sekolah.(*)