Unisa Yogyakarta Atasi Sampah Organik di Karangtengah, Libatkan 2.800 Mahasiswa Baru

0
3
Mahasiswa baru Universitas 'Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta mengikuti kegiatan sosialisasi dan pemasangan lodong sisa dapur (Losida) di Padukuhan Karangtengah, Nogotirto, Gamping, Sleman, Kamis (17/9/2026). Program tersebut menjadi bagian dari upaya pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat. (dok. unisa yogyakarta)

Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta memperluas penanganan sampah organik berbasis masyarakat dengan memasang lodong sisa dapur (Losida) di Padukuhan Karangtengah, Kalurahan Nogotirto, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman. Program yang memasuki tahun keempat tersebut melibatkan mahasiswa baru untuk mengedukasi warga mengenai pengelolaan sampah rumah tangga.

Rektor Unisa Yogyakarta, Prof. Dr. Warsiti, S.Kp., M.Kep., mengatakan program Losida yang sebelumnya dilakukan melalui sosialisasi di kampus kini diarahkan pada aksi langsung di lingkungan masyarakat.

“Alhamdulillah, Unisa terus bisa mengembangkan program-program yang keberlanjutan. Ini tahun keempat sosialisasi program pada Losida. Pertama kita mengundang masyarakat, kemudian sekarang kita datang ke masyarakat untuk bagaimana memanfaatkan sampah sisa dapur menjadi hal yang bisa dikelola dan berdampak bagi kehidupan yang lebih baik,” ujar Warsiti dalam kegiatan sosialisasi dan pemasangan Losida di Padukuhan Karangtengah, Kamis (17/9/2026).

Dalam pelaksanaan program tersebut, Unisa melibatkan 50 kelompok atau kafilah mahasiswa baru dari total 2.800 mahasiswa yang telah menerima pembekalan sosialisasi. Pendampingan dalam kelompok kecil ditujukan agar interaksi dan edukasi pemilahan sampah bersama warga berlangsung lebih efektif.

Program Losida tidak hanya diarahkan untuk mengurangi sampah rumah tangga, tetapi juga menjadi sarana penanaman kepedulian lingkungan dan jiwa pengabdian mahasiswa melalui kegiatan social movement.

“Ini menjadi pemula bagi mahasiswa untuk mulai peduli dan tidak lepas dari pengelolaan sampah. Mereka harus disadarkan bahwa sampah bukan sekadar barang sisa, melainkan bisa dimanfaatkan. Kepedulian ini yang kita tanamkan sebagai nilai jiwa mereka, sekaligus menjadi solusi atas keluhan masyarakat terkait keberadaan mahasiswa yang juga menghasilkan sampah,” kata Warsiti.

Mahasiswa baru S1 Manajemen Unisa Yogyakarta dari Kafilah 50 Rasyid Ridha, Rahma Nur Hasanah, menilai keterlibatan langsung dalam kegiatan masyarakat memberikan pengalaman sekaligus pemahaman mengenai persoalan sampah.

“Kegiatan ini sangat bagus dan efektif untuk mahasiswa baru karena kita bisa bersosialisasi, menambah wawasan, dan mendapatkan pengalaman langsung terjun ke masyarakat. Apalagi saat ini Yogyakarta dan Indonesia sedang mengalami krisis sampah, sehingga pemanfaatan bahan sisa dapur melalui Losida ini sangat bermanfaat,” ujar Rahma, mahasiswa asal Gunungkidul.

Sementara itu, Dukuh Karangtengah, Surahmin, mengapresiasi program Unisa Yogyakarta yang memberikan bantuan Losida untuk warga di wilayahnya. Sebanyak 40 unit Losida disebut tersebar di 17 RT dan enam RW.

Menurut Surahmin, sampah organik masih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya teratasi. Sebelum adanya program tersebut, sebagian besar warga mengelola sampah organik dengan cara konvensional, seperti membuangnya di lahan pekarangan atau memanfaatkannya sebagai pakan ternak itik.

“Masalah sampah saat ini menjadi persoalan yang belum terpecahkan sepenuhnya, salah satunya sampah organik. Penanaman Losida dari Unisa ini menjadi solusi nyata untuk mengurai sampah sisa dapur di tingkat rumah tangga,” kata Surahmin.

Ia mengungkapkan, pengelolaan sampah yang belum tertata terkadang mengganggu kebersihan lingkungan. Di sisi lain, pemahaman warga mengenai efektivitas penggunaan Losida saat ini diperkirakan baru mencapai 40 persen.

Karena itu, Surahmin menilai pendampingan dari perguruan tinggi masih diperlukan agar pemanfaatan Losida tidak berhenti pada pemasangan unit, tetapi berlanjut hingga warga mampu mengelolanya secara mandiri.

“Dulu warga yang diundang ke kampus untuk sosialisasi. Sekarang pihak kampus yang langsung turun ke wilayah. Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti pada pemasangan saja, tetapi ada pemantauan berkala dalam 2 hingga 3 bulan ke depan agar warga bisa mengembangkan Losida secara mandiri dan menjadi contoh bagi wilayah lain,” pungkasnya. (*)