Bunyi sirine Early Warning System (EWS) di bantaran sungai bukan sekadar tanda bahaya. Setiap pola bunyi memiliki arti dan tindakan berbeda yang harus diketahui warga.
Pemkot Jogja melalui BPBD menguji sistem tersebut lewat simulasi aktivasi EWS serentak di Sungai Gajah Wong, Code, Belik, dan Winongo, Rabu (2/9/2026). Simulasi melibatkan Kampung Tangguh Bencana (KTB) di sejumlah wilayah rawan, termasuk Gendeng, Tegalgendu, Ledok Tukangan, Klitren Lor, dan Pingit.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Yogyakarta, Nur Hidayat, mengatakan peringatan dini menjadi kunci untuk menyelamatkan diri ketika air sungai meluap.
“Dalam kebencanaan, peringatan dini adalah alat nomor satu untuk menyelamatkan diri,” tegas Nur saat meninjau simulasi di bantaran Sungai Gajah Wong, Gendeng.
BPBD Kota Yogyakarta saat ini mengoperasikan 36 unit EWS dari kawasan perkotaan hingga perbatasan Kabupaten Sleman.
Lalu, apa arti setiap bunyi sirine?
🔹 Uji coba/simulasi: bunyi panjang satu kali, kemudian pengumuman. Warga diminta tetap tenang dan tidak panik.
🔹 Waspada: sirine berbunyi enam kali dengan jeda. Warga diminta waspada dan memantau informasi BPBD.
🔹 Siaga: sirine berbunyi cepat dan berulang, empat kali bunyi dan empat kali jeda. Warga harus mematikan listrik, menyiapkan tas siaga, mengamankan dokumen penting, memantau jalur evakuasi, dan bersiap di titik kumpul.
🔹 Awas: sirine berbunyi panjang terus-menerus. Warga harus segera evakuasi dan menjauh dari bantaran sungai.
Ketua KTB Gendeng, Dedi Hermawan, mengatakan keberadaan EWS yang terpasang sejak sekitar enam tahun lalu telah membantu warga menghadapi luapan Sungai Gajah Wong. Bahkan, ketinggian air pernah mencapai sekitar 3 meter. (*)














