Rumah Pantomim Yogyakarta, Kembali ke Panggung Buka Cakrawala Baru

0
113
Pemotongan tumpeng seusai konferensi pers di Yayasan Rumah Pantomim Yogyakarta. (zukhronnee muhammad)

Bagi orang Jawa, “sowan” bukan sekadar bertamu. Ada rasa hormat di sana, sebuah gestur merendahkan hati untuk menyapa yang lebih tua, menghargai sejarah, sekaligus meminta restu untuk masa depan.

Filosofi inilah yang dibawa Rumah Pantomim Yogyakarta di awal tahun 2026. Mereka tidak sedang sekadar bikin acara, tapi sedang memulai babak baru: bertransformasi resmi menjadi sebuah Yayasan.

Perayaan transformasi ini dikemas dalam Parade Pertunjukan Pantomim “Sowan” 2026, yang puncaknya bakal digelar Sabtu, 31 Januari 2026, di IFI-LIP Yogyakarta.

Bukan Sekadar Ganti Status

Mengapa harus jadi yayasan? Aldo Adriansyah, salah satu motor penggerak muda di komunitas ini, punya jawaban tegas. Baginya, ini bukan soal birokrasi, tapi soal tanggung jawab.

“Transformasi ini bukan cuma ganti nama. Ini soal tanggung jawab merawat ekosistem pengetahuan seni gerak agar tidak hilang begitu saja,” ujar Aldo saat konferensi pers pada Jumat (23/1/2026).

Ia sadar, tanpa wadah yang kuat, pantomim di Jogja berisiko hanya jadi kenangan masa lalu.

Langkah ini juga lahir dari keresahan Broto Wijayanto. Seniman senior yang dikenal gigih memperjuangkan seni inklusi lewat Deaf Art Community ini melihat fenomena unik: pantomim menjamur di sekolah-sekolah karena lomba (FLS2N), tapi “mati suri” di panggung profesional.

“Pantomim itu sekarang di sekolah-sekolah sudah kayak ‘panu’, cepat banget menyebarnya karena lomba. Tapi kasihan, setelah lulus, anak-anak ini kehilangan panggung. Ruangnya habis,” kata Broto.

Lewat yayasan ini, Broto ingin memastikan pantomim punya rumah yang inklusif—tempat di mana seniman tuli dan dengar bisa berkarya setara, bukan sekadar tempelan.

Mewadahi Aktor hingga Mimer Murni

“Sowan” kali ini juga menjadi bukti bahwa pantomim adalah “ibu” dari seni peran. Hadirnya Jamaluddin Latif, aktor watak yang wajahnya akrab di layar lebar (Mencari Hilal, Ziarah), menegaskan hal itu.

Meski sibuk di film, Jamal kembali “sowan” ke pantomim sebagai fondasi keaktoran yang paling jujur.

Di sisi lain, ada Asita Kaladewa, mimer yang konsisten menjaga kemurnian teknik. Kehadirannya menjadi jangkar, mengingatkan bahwa di tengah eksperimen modern, disiplin tubuh tetaplah yang utama.

Sebelum puncak acara, mereka membuka ruang belajar lewat Workshop Pantomim di Kelas Pagi Yogyakarta pada 26–28 Januari 2026. Siapapun boleh ikut, dari anak-anak sampai dewasa.

Barulah pada tanggal 31 Januari 2026, mulai pukul 15.00 WIB, mereka akan pentas Sowan di IFI-LIP Yogyakarta. Lewat parade karya tunggal ini, Rumah Pantomim Yogyakarta ingin bilang: kami ada, kami berbenah, dan kami siap merawat sunyi ini menjadi bunyi yang lantang bagi masa depan seni Indonesia. (*)