
Sekitar 12.000 massa memadati kawasan Keraton Yogyakarta, Kamis (2/4/2026), dalam kirab massal “Gelondong Pengarem-arem” untuk memperingati Mangayubagyo Yuswa Dalem ke-80 Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Kegiatan ini diikuti lurah dan pamong dari 438 kalurahan/kelurahan se-DIY bersama ribuan warga.
Kirab yang diinisiasi Paguyuban Nayantaka tersebut menampilkan beragam potensi unggulan wilayah. Peserta membawa hasil bumi seperti beras, umbi-umbian, hingga ternak hidup.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah gunungan bawang merah seberat satu kuintal dari Kelurahan Canden, Bantul.
Ketua Umum Paguyuban Nayantaka, Gandang Hardjanta, mengatakan kegiatan ini merupakan bentuk syukur para lurah atas kebijakan Sultan yang memperbolehkan pengelolaan Tanah Kas Desa untuk meningkatkan pendapatan kalurahan.
“Ini wujud terima kasih kami kepada Ngarsa Dalem yang di usia 80 tahun masih mengayomi masyarakat. Banyak kalurahan kini memiliki pendapatan mandiri hingga miliaran rupiah dari pengelolaan tanah tersebut,” ujarnya di Keraton.
Ia menegaskan, seluruh hasil bumi yang dihaturkan bersifat simbolis. Sultan, kata dia, akan mendistribusikan kembali kepada masyarakat melalui pemerintah kabupaten.
“Gelondong pengarem-arem ini memang dihaturkan ke Keraton, tetapi nantinya akan dikembalikan lagi ke masyarakat. Ini pesan gotong royong, dari rakyat untuk rakyat,” katanya.
Kirab kolosal ini telah dipersiapkan selama dua bulan melalui koordinasi antara organisasi lurah, pemerintah kabupaten, dan Pemda DIY.
Meski sempat memicu kepadatan lalu lintas di sejumlah titik, panitia menyampaikan permohonan maaf sekaligus apresiasi atas toleransi masyarakat.
Hingga berita ini diturunkan, prosesi penerimaan hasil bumi masih berlangsung di bangsal-bangsal Keraton dengan pengawalan ketat dalam suasana kondusif. (*)













