Pemerintah Kota Jogja kembali menguji coba Malioboro full pedestrian pada 1–2 Desember 2025. Meski kendaraan pribadi sudah dilarang melintas, parkir liar di sirip-sirip jalan masih menjadi persoalan terbesar dan mengganggu akses wisatawan.
Kepala UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya, Fitria Dyah Anggraeni, menyebut penyediaan lahan parkir belum optimal. Sirip-sirip Malioboro yang seharusnya menjadi titik putar balik dan naik-turun penumpang justru dipenuhi kendaraan roda dua dan mobil pribadi.
“Pada malam hari masih muncul parkir liar, jadi perlu terus dikomunikasikan,” ujarnya saat dikonfirmasi Selasa (2/12/2025).
Saat ini, wisatawan hanya dapat memanfaatkan TKP Senopati, TKP Beskalan, dan Menara Kopi Kotabaru. Fitria menilai kapasitas tersebut belum sebanding dengan arus kendaraan yang datang ke Malioboro.
Meski begitu, ia menyebut uji coba kali ini lebih baik dibanding pelaksanaan pertama pada Oktober, terutama setelah adanya sosialisasi dan pembagian kartu akses bagi sebagian pedagang.
Pemkot belum memastikan kapan kebijakan pedestrian akan diterapkan permanen karena perlu mempertimbangkan limpahan lalu lintas dan kesiapan parkir.
“Harapannya dalam satu tahun ke depan, tetapi banyak pihak yang harus diyakinkan,” kata Fitria.
Dinas Kebudayaan Kota Jogja menilai uji coba pedestrian sekaligus menjadi momentum menghadirkan kembali aktivitas budaya melalui Malioboro Culture Vibes.
Ketua BPPD DIY, GKR Bendara, sebelumnya menyebut kegiatan budaya mampu memperkuat sektor pariwisata, namun publikasi harus dilakukan lebih awal.
Pedagang mendukung kebijakan ini, tetapi meminta kelonggaran akses untuk bongkar muat serta percepatan penyelesaian parkir Ketandan.
Sebagian Warga juga menyambut positif karena Malioboro terasa lebih aman dan nyaman, meski sebagian berharap kebijakan tidak diberlakukan setiap hari agar tidak menyulitkan saat akhir pekan. (*)














