Pakar sebut Istilah ‘Superflu’ Tidak Ilmiah dan Belum Terbukti Mampu Menghindari Kekebalan Tubuh

0
33
Ilustrasi masker dan hand sanitizer untuk pencegahan penularan virus. (ai image generated)

Publik baru-baru ini dihebohkan dengan kemunculan varian virus yang disebut “Superflu”. Menanggapi hal tersebut, Dosen Mikrobiologi FK-KMK UGM, Prof. dr. Tri Wibawa, Ph.D., Sp.MK (K), menegaskan bahwa sebutan tersebut bukanlah istilah ilmiah dalam dunia medis.

Varian yang dimaksud sebenarnya adalah Influenza A H3N2 subclade K. Berdasarkan hasil pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS), varian ini telah terdeteksi di Indonesia sejak Agustus 2025 dengan total 62 kasus hingga Desember lalu.

Meski terdapat laporan satu pasien meninggal dunia di RS Hasan Sadikin Bandung, Prof. Tri menekankan bahwa secara genetik varian ini masih memiliki kekerabatan dekat dengan flu musiman.

“Belum ada bukti laboratorium atau studi populasi yang menunjukkan varian ini mampu menghindari kekebalan tubuh manusia yang terbentuk dari infeksi sebelumnya maupun dari vaksin,” jelas Prof. Tri, Jumat (9/1?2026).

Sementara itu, Dinas Kesehatan Kota Jogja memastikan telah melakukan pemantauan melalui sistem Sentinel. Kepala Bidang P2P Dinkes Kota Jogja, dr. Lana Unwanah, menyebut satu kasus pernah ditemukan di DIY pada empat bulan lalu, namun pasien telah dinyatakan sembuh total.

Dinkes mengakui sempat terjadi lonjakan klaster batuk-pilek di sekolah-sekolah pada September-Oktober 2025. Namun, masyarakat diminta tidak panik berlebihan karena fatalitas varian ini tidak seberat Covid-19.

“Varian ini menyerang saluran pernapasan atas. Yang perlu diwaspadai adalah kelompok rentan seperti lansia dan mereka dengan komorbid seperti diabetes,” ujar dr. Lana.

Pencegahan tetap mengandalkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Ia menyarankan penggunaan masker bagi yang bergejala, cuci tangan rutin, serta ventilasi ruangan yang baik. Vaksinasi influenza juga tetap dianjurkan, terutama bagi ibu hamil dan lansia, guna mencegah komplikasi fatal. (*)